Thailand Trip : Cerita Menuju Wat Arun


Hari kedua di Thailand sebenarnya sudah saya atur untuk menuju ke Hua Hin, karena semalam si Lia mengatakan “ngapain ke Hua Hin, disana nggak ada yang bisa dilihat”, auto galau kan, padahal sudah booking hotel jauh sebelum berangkat ke Thailand yaitu di Jetty Hua Hin Hostel yang memang menjadi incaran saya.

wat arun bangkok
Selamat Datang di Wat Arun

Pagi sekitar jam 9 setelah selesai sarapan sederhana ala menu hotel, saya berjalan kaki yang sangat menguras tenaga menuju BTS Siam. Teriknya matahari di Bangkok jam segini sama saja seperti di Jakarta atau Surabaya, bikin gerah.

Jembatan bagi pejalan kaki menuju BTS

Agenda saya hari ini adalah mengunjungi kawasan wisata Wat Pho dan Wat Arun, saya tidak mengunjungi Grand Palace, karena menurut info dari sesama tamu Indo yang menginap di Hotel, hari ini ada kegiatan ritual atau semacamnya, sehingga Grand Palace ditutup. Saya juga tidak tahu pasti benar tidaknya, daripada sudah terlanjur ke Grand Palace dan beneran tutup, ya saya skip juga.


Drama Menuju Wat Arun
Dari cerita teman yang baru saya kenal di Hotel dan sesama turis dari Indo, dia sudah explore Wat Pho dan Wat Arun serta kawasan touristy sebelumnya dan memberi masukan saya untuk naik bis saja dengan mengikuti petunjuk dari website www.rome2rio.com.

Karena menganut asas hemat, saya pun mencoba mengikuti sarannya ketika sudah keluar dari hotel. Memang ya, untuk memahami petunjuk arah di smartphone ini dibutuhkan keahlian, menurut saya sendiri yang sudah yakin berdiri di halte bis sesuai petunjuk pun bisa bubar jalan.

Bis yang dimaksud sudah tiba dan saya pun segera berebut naik dengan warga lokal lainnya, kali ini saya tidak melihat ada turis asing selain warga lokal yang masuk bis ini. Keep cool..


Di dalam bis, saya mencoba mencari perawakan orang yang kira-kira bisa berbahasa Inggris, saya pun bertanya random dan mereka memberikan tanda kalau saya salah naik bis dan menyuruh saya untuk turun di halte berikutnya.

“Ya Tuhan untung nggak sampai belasan kilo meter bis ini jalan, meskipun bis sempat lewat di jalan semacam jembatan layang”

Saya kembali berjalan balik arah menuju arah Platinum Fashion Mall dan kali ini saya memutuskan untuk naik BTS saja. Lelah kalau harus menebak nebak nomor bis dan kebanyakan nama tujuannya ditulis dengan huruf Thailand.


Saya harus berjalan kaki sangat jauh dari jejeran mall-mall di daerah Pratunam ini untuk menuju BTS Siam. Dengan berbekal ilmu dari internet, dari BTS Siam saya memilih tujuan BTS Saphan Taksin, sama dengan rute menuju Asiatique. 

Di dermaga Sathorn Taksin saya antri untuk naik Chao Phraya Express Boat. Saya asik menikmati view disepanjang sungai Chao Phraya ini sampai akhirnya semua penumpang turun di dermaga yang terlihat sangat bagus, saya ikutan turun karena saya mengira akan ganti kapal, tapi ternyata tujuan kapal tadi adalah di ICON SIAM MALL, salah naik kapal hahaha.

Chao Phraya Boat
Antri yang tertib sebelum naik boat
Chao Phraya Boat Thailand

Ditengah (agak) kepanikan saya ini, si Lia menanyakan posisi saya, sebelum saya ngeh kalau ini adalah ICOM SIAM Mall, saya mengirim foto lokasi via WA ke Lia

“Lahhh itu Icon Siam mbak, nyasar ya” ujarnya
“Lahhh (ketawa ngakak dalam hati), ya udah aku coba nanya nanya dulu” balasku

Icon Siam Mall


Kembali ke dermaga, saya bertanya mengenai kapal tujuan Wat Arun, akhirnya saya kembali menunggu cukup lama untuk kedatangan kapal tujuan Wat Arun. Mendekati Wat Arun, dari dalam kapal, penumpang bisa melihat salah satu bangunan Wat Arun yang menjulang tinggi, sudah bisa dipastikan kalau kali ini saya nggak bakalan salah turun.

Cari tiket boat lagi

Selamat Datang di Wat Arun
Berwisata ke candi seperti ini mengingatkan saya akan Candi Prambanan maupun Borobudur, yang membedakan adalah pembangunan Wat Arun ini sebagian besar didominasi dengan tatanan pecahan-pecahan keramik. Sehingga di sore hari dari kejauhan, keramik-keramik ini terlihat seperti bercahaya, cantik.

Wat Arun
Wat Arun dari kejauhan



Tiket masuk Wat Arun adalah sebesar 50 Baht. Di bagian komplek kuil utamanya memang tidak banyak yang bisa dilihat selain foto-foto, sayangnya waktu saya kesana, pintu pagar untuk naik ke bangunan paling tinggi ditutup, alhasil wisatawan hanya berkeliling diseputar bangunan kuil saja.




Perhatikan jam buka dan tutup Wat Arun

Kawasan Wat Arun cukup luas juga untuk dijelajahi, cukup puas dengan komplek kuil utama ini, saya menuju bangunan-bangunan disebelahnya, penasaran juga kenapa banyak turis yang berjalan kearah bangunan disebelahnya.



Detailnya

Amazing
Si bule ikutan in frame aja

Saya pun mengexplore bagian lain yang banyak didominasi oleh ruang-ruang kosong dan patung dewa-dewa, sesekali sok ikutan gabung sama turis lain kalau ada Guidenya, jadi bisa curi-curi dengar informasinya.



Halaman belakang dari bagian komplek Wat Arun



Ada satu bangunan yang cukup besar di kawasan ini, untuk masuk ruangan yang “suci” ini wajib melepas alas kaki. Di dalam ruang sembayang ini terlihat seorang biksu yang memimpin doa dan bahkan ada beberapa turis yang ikut giliran untuk didoakan oleh biksu ini.



Yang membuat saya terpana dengan bangunan disini adalah detail di dindingnya seperti tatanan mozaik-mozaik keramiknya tersusun dengan sangat rapi, kalau dilihat dari kejauhan seperti emas yang berjejer dan nampak berkilau.





Puas menikmati area Wat Arun, saya kembali menuju dermaga dan mencari informasi kapal untuk selanjutnya menyeberang menuju Wat Pho. Semoga tidak salah naik kapal lagi.. *lelah hayati*

Comments

  1. Voila! ..., cantiknya pagoda Wat Arun 🤩

    Bentuk candinya memang ada kemiripan dengan candi Prambanan, ya .
    Yang bedain, candi Wat Arun ditempeli potongan kaca ..., kesannya jadi blink-blink 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget kak himawan, cantik ya kayak aku hahaha

      ngebayangin jaman dulu gimana mbangunnya ya, nata nata potongan kaca kayak gitu bisa rapi, luar biasa kerjanya

      Delete
    2. Hu'um ..., sama cantiknya pagoda Wat Arun sama yang punya blog, Ainun Isnaeni hihihi 😁

      Rada heran juga ya ternyata jaman dulu udah ada kaca ..
      Apa mungkin usia pembangunan candinya lebih mudaan usia dibanding dengan candi Prambanan kali, ya 🤔 ?

      Delete
    3. menurut riset di mbah google, wat arun dibangun tahun 1768 sedangkan prambanan abad 9 masehi. aku nggak pinter itung-itungan, kayaknya tuaan prambanan ya hehehe

      mungkin waktu bangun prambanan, material kaca kaca seperti ini terbilang mahal banget jaman kerajaan dulu, jadi nggak sanggup beli. Belum lagi dijajah Belanda juga

      menurut analisaku ini :D

      Delete
  2. hahaha, Mbaaa.. saya ngakak!
    Tapi menarik loh, dengan gitu Mba jadi lebih ngeh dengan banyak lokasi di sana.

    Kata orang, kalau traveling penuh drama itu, malah makin berkesan, apalagi travelingnya sendirian, rasanya tuh jauh lebih berkesan :)

    Hope someday bisa menantang diri jalan-jalan kayak gini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha aku aja waktu nyasar nyasar gini kayak "gemes gregeten" sama diri sendiri, ya pengen ngetawain diri sendiri juga

      biasanya kalau ada kejadian yang nggak terduga seperti ini, besok besok aku jadi "pede" kalau kesana lagi, minimal tau "oooo ini kan tembusan jalan ini..." sok sok tau dikit gitu hahaha

      Delete
    2. Nah kan, malah jadi lebih berani dan lebih tahu, apalagi kalau sendirian, jadi kita mutusin sendiri, nggak pakai berdebat dulu, cuman nggak enaknya kalau sendirian ngakaknya ya juga sendiri, pas tahu kita nyasar :D

      Delete
    3. hahaha iya mba, ngakaknya sendiri, nasib solo travel :D

      Delete
  3. Duuuhhh aku belum bisa ke Thailand, padahal udah direncanain. Hiks, semoga suatu saat bisa sampe ke Thailand jugaa aku nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. aminnn kak, kalo waktu cocok bisa nih bareng :D
      manusia yang berencana, tuhan yang berkuasa mbak, kira kira seperti ini ya istilahnya.
      nanti akan indah pada waktunya, tetep semangat mbak

      Delete
  4. Cantik banget mbak, tempat-tempat yang mbak kunjungi. Drama nyasar ke tempat mewah ginian mah, mau banget, bisa shopping asik.
    Itu pagodanya keren, banyak patung Buddha nya juga, ngomong2 monk nya kasih gelang keberuntungan ga mbak?
    Keren deh mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang drama kayak gini yang seru ya mbak hehehe
      iya sekilas aku liat kayak ngasih ngasih gelang mbak, aku juga nggak lama di ruangan itu, turis banyak yang keluar masuk juga

      Delete
  5. yang disuka adalah tetap menjaga ke arifan budaya thailand. keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju sekali ini, suka sama negara yang masih menjaga dan mempertahankan tradisi budaya, adatnya gitu.

      Delete
  6. Kesasar memang membuat perjalanan jari lebih menarik dan berkesan. Tentu saja jadi ada sedikit drama.

    Ikut sedih karena ga bisa naik ke bagian yang paling tinggi. Mungkin lain waktu mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya kesasar adalah sebuah seni dari perjalanan ya mas rivai hehehe
      iya sepertinya kudu balik lagi ya ke Thailand tanda tandanya kalo gini :D

      Delete
  7. Saya belum pernah ke Wat Arun mba :)))

    Padahal sering bolak balik Thailand, include untuk biztrip kerja. Cantik ya ternyata dan ramai juga hehehe. By the way, saya jadi kangen BTS Siam karena dulu waktu biztrip hampir sebulan di Bangkok, hampir setiap hari rute saya lewat BTS Siam :3

    Ditunggu cerita perjalanan berikutnya mbaaa <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe ada kenangannnya ya mbak, iya BTS di Bangkok ini jadi moda transportasi para pekerja disana ya, semangat sekali kalo berangkat kerja hehehe
      btw, aku ampun ampun waktu jalan dari hotel ke bts siam, sampe mikir "mantap kali orang bangkok jalan segini jauh tiap hari, aku udah pegel hahahaha"

      Delete
    2. Saya baru mau nanya, kira-kira Eno pernah nggak ke Wat Arum, karena setahu saya di sana panas qiqiqiqiq

      Delete
    3. panasnya ampun ampun :D

      Delete
  8. Yaampun cantik banget ya pas sesampai di Wat Arun yang bangunannya tinggi
    Bahkan kelihatan bercahaya kalau dari kejauhan
    Memang kalau ada drama pas jalan jalan malah bisa jadi cerita tersendiri loh hihi

    Untungnya akhirnya ketemu kam sama si mb lia nya

    Klo ke Thailand memang aku searching2 pasti the numba one itu wat arun klo di Thailand, meskipun aku blum ada kesempatan sampai ke sana. Pingin deh lihat carita jalan jalan begini hihihi

    Oh iya mb aku boleh kasih masukan kah, jadi aku kan biasanya lihat blog di tab, nah waktu aku buka blog mb ainun, apakah memang tata letaknya agak ke sisi sebelah kiri ya, soalnya dari tab aku gambarnya jadi menciut lebih ke posisi kiri, sedangkan sebelah kanan blank, e tapi itu kalau kulihat dari tab sih, belum aku lihat dari leptop, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe iya wat arun ini semacam destinasi "wajib" buat turis turis
      ada kenangannya kalo banyak drama hahaha

      untuk tampilan blog aku, rata tengah menurutku mbak, sebelah kanan isinya hanya foto profile sama arsip blog saja. Aku jadi penasaran nih mbak

      Delete
    2. Saya selalu buka di laptop, bagus tampilannya, cuman memang tulisannya agak kecil (untuk mata saya sih) untuk mata normal udah pas ini hehehe

      Delete
    3. yang akhir-akhir ini font di kolom komentarnya jadi kecil mba, aku heran juga, kayaknya karena kemarin di ganti kode html untuk pemasangan theme yang baru. cuman masih belum selesai hehehehe

      Delete
  9. Btw Mba, kemaren abis baca ini, saya baca postingan Mba Fanny di Yangon, dan saya kira tempatnya sama dong, hampir aja saya bilang kalau Mba Ainun habis dari sono, terus saya sadar, lah kan Mba Ainun di Thailand hahhaha.

    Soalnya tempatnya mirip-mirip tuh, penuh warna emas, terus masuk ke dalam nggak boleh pakai sandal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha untung mba, ntar aku kan malu kalo mb fany mampir kesini.
      wisata model wat wat kayak gini mirip mirip, kadang semua hampir sama dengan warna emasnya, mungkin ciri khasnya kali ya.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar biar saya senang