Ordinary Girls Blog

Rabu, 26 Maret 2014

E-Magznya Blogger, Pastinya Notif!

Aktivitas ngeblog atau menuliskan pengalaman dari diri sendiri ke dalam suatu wadah online pastinya sangat menyenangkan. Dari sini, kita bisa mendapat teman-teman baru di dunia maya, yang tidak menutup kemungkinan sampai kopdar di dunia nyata. Siapa yang tidak tahu Warung Blogger? Teman-teman blogger yang tergabung dalam wadah ini berinisiatif untuk membuat sebuah E-Magz dan akhirnya edisi perdana E-Magz dari Warung Blogger ( @warung_blogger ) yaitu Notif! terbit pada bulan Februari 2014. Memasuki bulan Maret ini, edisi kedua Notif! tampil dengan sentuhan “Millenium”. Notif! juga memberikan kesempatan bagi pembaca untuk menyumbangkan tulisannya, siapa tahu tulisan kalian menginspirasi yang lain, tentunya dalam hal yang positif.

Edisi pertama Notif! download di link ini :
http://www.4shared.com/file/QkTpcxcTba/NOTIF_Magz__1st_Issue.html

Untuk edisi kedua Notif! monggo didownload di sini ya : http://bit.ly/1h7Z5Xi

Sukses terus Notif! Go Ahead.

Senin, 10 Maret 2014

Responsible Travel Yuk, Kenapa Tidak !

Traveling bukanlah sesuatu yang “wah” sekarang ini. Semua orang, dari kalangan mana saja, tua muda, remaja maupun dewasa bisa melakukannya. Dulu, ketika masih diberlakukan fiskal bagi mereka yang ingin bepergian ke luar negeri, mungkin frekuensi traveling tidak sesering seperti saat ini, terutama bagi mereka yang masih berstatus mahasiswa. Sekarang, jangankan karyawan, mahasiswa pun yang hobi jalan-jalan bisa dengan puas menyalurkan hobinya tersebut lantaran tiket promo mudah didapat dan kebijakan fiskal yang sudah dihapus. Gaya traveling pun bermacam-macam dan tergantung si pejalan. Mau geret koper oke, mau bawa backpack yang lebih praktis juga oke. Free.

Banyaknya pejalan yang traveling kesana kemari, membuat mereka menginginkan bentuk kenangan yang berbeda selain foto album, yaitu dengan menuangkan pengalamannya ke dalam tulisan di blog pribadi yang juga bertujuan sebagai tempat untuk berbagi info mengenai destinasi suatu tempat. Nah, dari sinilah akhirnya muncul blog-blog yang banyak mengulas tentang dunia traveling dan seluk-beluknya dan kerap disebut travel blogger.
Gili Trawangan yang membiru
Blog dari travel blogger ini memudahkan mereka yang hobi traveling, begitu juga dengan saya, rajin wara-wiri atau blogwalking untuk mencari referensi destinasi wisata yang akan saya tuju. Cerita keseruan dan review baik dari segi akomodasi maupun transportasi  dari travel blogger ini, juga menjadi pertimbangan saya ketika memutuskan untuk mencoba apa yang telah mereka lakukan. Dan sekarang, saya pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari informasi destinasi wisata yang akan saya tuju, karena blog-blog seperti milik Ariev Rahman (www.backpackstory.me), Fahmi Anhar (www.fahmianhar.com), Debbzie (www.debbzie.com), Cumilebay (www.cumilebay.com) banyak bercerita mengenai tempat-tempat wisata baik domestik maupun internasional.

Traveling pun tidak asal sembarangan traveling, saya sendiri di tujuan wisata berusaha untuk menghormati adat maupun tradisi yang berlaku di sana. Seperti ketika berkunjung ke Wae Rebo di Flores yaitu dengan menjaga sopan santun, tidak membuang sampah sembarangan, baik ketika berada di kampung Wae Rebo maupun dalam perjalanan menuju Wae Rebo itu sendiri.
Selain itu, ketika saya liburan ke Gili Trawangan, saya menginap di salah satu rumah warga yang disewakan sebagai tempat penginapan. Traveling yang seperti ini bikin senang, kenapa ? Karena kita sebagai wisatawan, secara tidak langsung membantu perekonomian warga disana. Ya, bagaimanapun kalau pariwisata kita dikelola dengan baik, wisatawan mancanegara akan senang berkunjung ke Indonesia dan pastinya hal ini membawa keberuntungan bagi pemerintah di sektor wisata. Hal tersebut yang dinamakan dengan responsible travel.
Hijaunya Wae Rebo
Sebagai generasi muda, memang tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membuat Indonesia dalam waktu sekejap bisa mendapat “nama” di dunia pariwisata Internasional. Tapi, dengan usaha sederhana responsible travel yang diterapkan dalam setiap perjalanan traveling kita, hal itu sudah membantu pariwisata di negara kita ini.

Selasa, 11 Februari 2014

[ Review ] : Feel Like Home at Fendi's Guest House Malang

Memilih penginapan di Malang bukanlah perkara yang susah. Mau tidur di penginapan seperti hotel, losmen, homestay semua ada. Perkaranya adalah ketika libur long weekend dan belum booking satu penginapan pun dan hampir semuanya telah terbooking oleh orang lain. Dari dulu, saya penasaran dengan yang namanya Guest House, nama sih boleh Guest House, tapi intinya sama saja dengan hotel. Bahkan harganya pun untuk yang sekelas room standart ada yang mencapai Rp. 500 ribuan. Browsing Guest House di Malang bakalan menemukan banyak pilihan dan semuanya bagus. Ada beberapa nama Guest House yang masuk “wishlist” saya, sayangnya ketika libur Imlek kemarin, sudah full booked. Nah, untungnya Fendi’s Guest House ini masih ada room dan itupun Deluxe.
 Yang membuat saya penasaran dengan tempat ini, menurut review di beberapa website, konsep tatanannya ala zaman kolonial Belanda lengkap dengan perabotannya. Pastinya tamu hotel serasa kembali ke zaman penjajahan dulu.
Tampak depan
Ruang tengah

Masuk di lobi, saya disambut oleh mbak-mbak cantik resepsionisnya. Kelar urusan pencatatan data diri, saya diantar ke kamar Deluxe yang sudah saya pesan sebelumnya. Melewati ruang tengah, suasananya nyaman, homey banget deh. Ada Piano, foto-foto jadul dipajang di dinding tembok, sofa empuk dan TV. Sampai sini mirip seperti di rumah sendiri. Berjalan terus ke belakang, bangunannya lebih modern, mirip seperti hotel pada umumnya.

Foto-foto yang dipajang di ruang tengah
Foto-foto yang dipajang di ruang tengah
Sudah pernah diliput di koran lokal lho

Kamar saya berada di Lantai 1. Untuk kamar Deluxe ini, terdapat AC, TV serta disediakan 2 buah handuk bersih, dan toiletnya terdapat shower air panas & dingin. Untuk breakfast, tamu akan ditawari nasi goreng, mie goreng/kuah atau roti dan minumnya teh atau kopi, serta mereka menawari ke kita, sarapannya akan diantar jam berapa. Kalau saya request jam 7 pagi, jadi sebelum jam 7, sarapan sudah diletakkan dimeja depan kamar.

Ini tempat tidur saya
Leyeh-leyeh sambil nonton TV
Kamar mandinya nih, bersih
Wastafel kamar mandi
Enaknya lagi kalau menginap disini, lokasinya strategis, berada di pusat kota, sebelah kiri Guest House ada toko sepatu Donatello, sebelahnya lagi Factory Outlet, depan Guest House ada jejeran depot-depot dan pecel kawi yang terkenal itu, terus ada KFC, juga Soak Ngalam. Mau belanja ke Giant tinggal jalan kaki, mau makan apa aja ada, soalnya dekat dengan Pulosari, yang notabene tempatnya warung-warung makanan dan cemilan-cemilan. Oya, rate untuk kamar standart disini Rp. 290 ribu, Deluxe Rp. 325 ribu, itu rate harga ketika saya menginap Imlek kemarin ya.

Gimana caranya ke Fendi's Guest House ?

Dari Terminal Arjosari Malang, bisa naik angkot ADL, minta turun di Jl. Kawi, Fendi's Guest House. Kalau sopirnya nggak tau dimana Fendi's Guest House, minta turun saja di toko sepatu Donatello, papan namanya gede kok.Kalau mau gampang, bisa naik taksi, ongkosnya borongan nih, yaitu Rp. 50K
Kalau mau menginap disana, nih alamatnya :

Fendi’s Guest House
Jl. Kawi Atas 48 Malang
Telp. 0341 - 551359

Kamis, 16 Januari 2014

Menikmati Tarian Caci Khas Manggarai


Tarian Caci ? wahh jujur saya nggak tahu apa itu tarian Caci atau Caci Dance. Sebelum berangkat ke Flores pun saya nggak sempat browsing tarian caci. Malah, saya browsing sepulang dari trip Flores hehe. Tarian caci biasanya diselenggarakan ketika ada upacara adat Penti seperti di Wae Rebo dan diadakan setiap pergantian tahun baru di bulan November. Berhubung kita nggak menyaksikan di Wae Rebo, jadi kita akan menuju ke Desa Meti yang direquest khusus oleh kita. Pihak penyelenggara di Desa Meti berusaha sebaik mungkin untuk menyuguhkan tarian khas Manggarai ini. Sejak kita turun dari otocolt di depan gang sampai ke lapangan tempat akan diadakannya pertunjukan Caci ini, rombongan saya diiringi tabuhan alat musik dan jadi tontonan warga. Wuihh serasa raja dan ratu penting lewat.

Jadi, apa tarian caci itu ?

Tarian caci yaitu seni bela diri, dimana menampilkan perkelahian antara dua orang dengan menggunakan cambuk dan perisai. Kita sebagai tamu diberi kesempatan untuk mencoba aksi pecut-pecutan ini. Puas bermain pecut-pecutan, rombongan saya dipersilahkan untuk masuk ke rumah yang difungsikan seperti aula. Sambutan-sambutan dari tetua adat pun dimulai dan suguhan makanan khas Manggarai mulai disajikan. Makanan khasnya yaitu seperti tumbukan beras. Rasanya hambar dimulut saya, karena tidak ada tambahan kuas-kuas manis yang bisa membuat saya lahap memakannya.  
Hyaaaattt 
Nari sambil nyanyi dengan bahasa daerah
Siap ! Action !


Jadi tontonan warga
Ternyata disana juga ada permainan bambu seperti ini

Di dalam aula ini, semua tetua adat dan tamu biasanya akan berpesta sampai pagi. Menari-nari dan menyanyi dengan bahasa daerah setempat. Tuan rumah pun menawari saya dan rombongan “apa akan terus berpesta”, sayangnya kita tidak sanggup untuk berpesta selama itu. Mungkin lain waktu, ketika saya kembali ke Manggarai, semoga bisa merasakan menikmati berpesta sampai pagi menjelang. 

Bernyanyi dengan tabuhan alat musik tradisional

Dan semoga kebudayaan tarian Caci ini akan terus dijaga kelestariannya, supaya anak cucu kita bisa melihatnya kelak. Setuju ?

Rabu, 15 Januari 2014

Kesederhanaan di Wae Rebo

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Ya, pepatah ini hendaknya diterapkan kemana pun kaki melangkah, terutama di tempat yang masih asing bagi kita. Tiba di Wae Rebo pun, saya tidak langsung jeprat jepret ambil gambar. Saya dan rombongan langsung menuju ke rumah utama yang disambut oleh ketua adat di kampung Wae Rebo ini.  Mereka satu persatu berkenalan berjabat tangan sambil berjalan jongkok memperkenalkan nama dengan ramah. Ketua rombongan dan guide kita pun mulai menjelaskan maksud kedatangan dan meminta izin untuk mengambil potret kehidupan warga Wae Rebo. Konon, kalau si empunya wilayah nggak merestui tamunya, foto-foto yang diambil akan tidak jadi alias rusak. Percaya nggak percaya sih. Tapi nggak ada salahnya mentaati aturan dari mereka. Di rumah utama ini, kita diberi suguhan minuman kopi khas Wae Rebo. Lumayan buat mendinginkan badan yang masih kedinginan. 
Ngopi dulu

Disambut oleh tetua-tetua Wae Rebo

Selesai beramah tamah dan foto bersama dengan para sesepuh Wae Rebo, saya dan rombongan semburat keluar rumah utama untuk mencari posisi pas buat jeprat jepret. Kehidupan sehari-hari warga Wae Rebo tidaklah berbeda jauh dengan kampung lainnya, mereka beraktivitas seperti menumbuk dan menjemur biji kopi. Bermain-main dengan anak-anak Wae Rebo juga tidak kalah serunya, kebanyakan sih malu-malu kalau difoto.
Anak-anak polos Wae Rebo
Numbuk kopi bareng ibu-ibu
 
Njemur-njemur
Hasil panen

Apa sih yang khas dari bangunan di Wae Rebo ?

Yang khas tentu saja struktur bangunan yang mempunyai fungsi dari tiap tingkatannya. Sebutan untuk rumah di Wae Rebo yaitu Mbaru Niang. Bentuknya unik seperti kerucut dengan atap yang terbuat dari daun lontar dan ditutupi ijuk seluruhnya. Sebuah rumah khas Wae Rebo atau Mbaru Niang terdiri dari lima tingkatan. Lantai dasar yang disebut lutur dipergunakan untuk memasak, tempat tidur maupun menerima tamu. Lalu di tingkatan kedua atau lobo digunakan untuk menyimpan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Ditingkat ketiga atau lentar digunakan untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan. Tingkat keempat atau lempa rae untuk meletakkan stok pangan jika terjadi kekeringan. Dan yang terakhir, tingkat kelima atau hekang kode untuk tempat sesajian persembahan bagi leluhur.
Tingkat kedua Mbaru Niang

Di sini terdapat total 7 Mbaru Niang dan 1 buah Mbaru Niang ditujukan untuk rumah penginapan bagi wisatawan yang akan menginap disana. Di rumah penginapan ini, dijual juga kain-kain tenun khas Flores, rata-rata Rp. 500 ribuan ke atas. Dan di bagian belakangnya terdapat dapur yang biasa digunakan oleh ibu-ibu untuk memasak.
Kain yang dijual di Wae Rebo

Dapur

Mbaru Niang yang difungsikan untuk penginapan wisatawan

Selesai urusan foto-foto, saya dan rombongan dipersilahkan untuk makan. Menunya sederhana, nasi dan mie. Tapi nikmat banget. Nah, kalau sudah sampai sini, jangan lupa untuk meninggalkan jejak nama dan asal daerah di buku kunjungan tamu. Buat catatan sejarah hidup euy hehehe
Ibu-ibu Wae Rebo juga menjual kopi khas daerahnya. Kopi Wae Rebo dijual dengan harga 1 kg : Rp. 100 ribu, dan ½ kg : Rp. 50 ribu. Bisa untuk oleh-oleh maupun dikonsumsi sendiri. 
Keluarga besar yang heboh


Numpang nampang bersama anak-anak Wae Rebo

Menjelang siang, kita harus mengakhiri kunjungan di kampung ini, karena perjalanan pulang kembali ditempuh selama 4 jam dengan jalan kaki. Di perjalanan pulang ini, saya bisa melihat dengan jelas jalur trekking yang pagi-pagi buta sudah saya lewati ketika berangkat, seperti jurang disisi kanan jalan dengan lebar yang nggak sampai satu meter. Ditambah dengan kabut yang tiba-tiba datang, semakin menambah suasana “mencekam”. Ketika pulang, saya dan rombongan memang terpisah, ada yang pulang duluan dan jalannya cepat sehingga sudah nggak terlihat lagi jejaknya. Saya dan ketiga teman yang notabene cewek semua (Vera, tante Ruth) dan satu cewek si Carmen, tangguh banget nih cewek. Biasa mendaki gunung, lari marathon ckckck, untung ingatan jalur trekkingnya tajam luar biasa. Kita sempat berpapasan dengan rombongan anak-anak muda dari kampung Wae Rebo yang hendak kembali ke kampungnya sambil membawa bahan pokok makanan, seperti beras yang dipanggul di pundaknya dan babi yang berjalan di bagian depan. Dan mau nggak mau, saya pun harus berhenti karena si babi jalannya megal megol, pinggir jurang pula. Oya, mereka ini sekolah di Kombo, jadi sesekali mereka pulang ke Wae Rebo untuk sekedar menjenguk keluarganya. 
Beberapa kondisi jalan

Setelah melewati pos 1, saya kembali bertemu dengan Bapak asli Wae Rebo yang juga akan kembali ke kampungnya sambil membawa belanjaannya. Ayam yang dibawa si Bapak ini harganya membuat saya dan teman-teman kaget. Bayangkan harga seekor ayam adalah Rp. 100 ribu. Yang membuat kita salut adalah perjuangan mereka untuk naik turun selama 8 jam sekedar membeli kebutuhan pangan.  
Ayam yang seharga 100 ribu

Perjalanan turun dari Wae Rebo disambut dengan rintik-rintik hujan di tempat penginapan Pak Blasius. Dari Wae Rebo, saya lebih belajar lagi mengenai kearifan lokal dan kesederhanaan masyarakatnya. 
 
Wae Rebo, tunggu aku kembali.
© 2014 Ordinary Girls Blog. All rights reserved.