Ordinary Girls Blog

Jumat, 25 Juli 2014

[Review] Hongkong Kaiteki Hotel Ho Chi Minh City

Lagi-lagi kembali galau memilih hotel di Ho Chi Minh City, situs pencarian hotel seperti www.hostelworld.com, www.booking.com maupun www.agoda.com memberikan beragam jenis hotel dengan pilihan harga yang beragam pula. Nah, dari puluhan hotel di situs pencarian hotel tersebut, ada satu hotel yang menarik perhatian saya, Hongkong Kaiteki Hotel namanya. 
Tampak Depan Hotel (Source : Website Kaiteki)
Saya pun meluncur ke website resmi Hongkong Kaiteki Hotel untuk mencari informasi detailnya. Yang membuat saya penasaran dengan hotel ini adalah adanya kamar dengan konsep tidur di dalam kapsul. Pernah mendengar tentang hotel kapsul nggak? Singkatnya sih seperti tidur di dalam peti mayat. Jangan dibayangkan tidur di dalam peti beneran ya.

Dari segi lokasi, Hongkong Kaiteki Hotel terletak di Bui Ven Street yang berada di Distrik 1, yaitu areanya turis. Jadi, kalau mau mencari makanan maupun agen travel nggak bakalan sulit.
Nggak mau tanggung-tanggung, saya memilih dua jenis kamar di Hongkong Kaiteki Hotel. Ketika booking kamar melalui website, akan diminta data kartu kredit. Tenang saja, nominal dari harga kamar yang dipesan nggak akan muncul di tagihan kartu, ini dimaksudkan sebagai “deposit” bahwa tamu benar-benar akan menginap disana. Hari pertama, saya merasakan tidur di Standart Room. Harga untuk Standart Room adalah USD 20/malam pada saat booking via website. Pas sampai hotel, langsung check-in dan tunjukkan kode booking yang sudah dipesan. Resepsionis akan memberikan pilihan, membayar dengan  mata uang US Dollar atau Dong. Saya memilih membayar dengan US Dollar, karena sudah saya siapkan sejak dari Indonesia. Urusan administrasi tidak hanya selesai disini, resepsionis meminta saya untuk “menjaminkan” paspor ke dia. Awalnya takut kalau paspor akan hilang, tapi mereka memberikan kepastian bahwa paspor akan baik-baik saja. Okay, paspor saya pun resmi ditahan.
Tempat tidur Standart Room
Kulkas, Lemari pakaian ukuran jumbo
Tempat tidurnya menghadap ke toilet yang kacanya tembus pandang hihihi
Pegawai yang saya temui malam itu hanya 2 orang, 1 cewek yang bertugas mengurus bagian administrasi di resepsionis dan 1 cowok juga turut menemaninya, sekaligus mengantar tamu yang baru datang ke kamar.
Fasilitas di kamar Standart Room ada water hitter, hair dryer, kulkas, AC, flat TV, lemari pakaian dan kamar mandi pribadi tentunya. Di dalam kulkas juga sudah tersedia air mineral dan soft drink. Sedangkan tamu yang menginap mendapat gratis 2 botol air mineral saja, selebihnya harus membayar. Di toilet pun, sudah tersedia 2 buah handuk dan toiletries lengkap.
Toiletnya cukup luas juga ternyata
Perlengkapan mandinya lengkap

Malam ketiga menginap di Kaiteki Hotel, saya pindah ke Female Business Capsule. Harganya USD 7/malam. Saya diharuskan mengganti alas kaki dengan sandal yang sudah disiapkan oleh pihak hotel dan menyimpannya di loker khusus yang terdapat di loby hotel. Pegawai hotel pun memberikan keranjang kecil yang berisi handuk, sikat dan pasta gigi. Pegawai hotel mengantar saya sampai di ruangan dormitory, karena dia juga akan menjelaskan  mengenai penggunaan loker dan password..
Deretan tempat tidur kapsul di Female Business Capsule, saya kebagian yang atas kiri hehehe
Loker di sebelah kanan
Ngintip tetangga depan
Colokan ear phone khusus buat dengerin suara TV



Lampu kamar langsung nyala kalau kunci ditancepin ke colokan ini
Selimutnya gede banget. Tontonannya Conan ^^
Kamar kapsul ini berkonsep shared room, jadi tamu berbagi kamar mandi dengan tamu yang lain. Yang namanya shared bathroom pasti nggak selalu wangi dong *aliasdibacapesing*, karena pemakainya nggak cuma saya saja. Kamar mandinya dibagian bawah tidak tertutup penuh oleh sejenis sticker anti tembus, jadi kalau disebelah ada yang mandi, bisa terliat kakinya

Toilet bersama
Jejeran toilet dan wastafel
Asiknya, meskipun dormitory, tamu yang menginap masing-masing mendapatkan fasilitas flat tv di dalam kapsulnya, kalau bisa sih bawa ear phone sendiri, di resepsionis sebenarnya juga bisa pinjam. Colokan listrik juga tersedia di masing-masing tempat tidur dan lampu tidur yang akan menyala jika kunci ditancapkan di slot khusus. Keren kan! Nggak seperti dormitory umumnya yang hanya sedia tempat tidur, lampu baca dan colokan listrik saja.


Note : 
  • Kaiteki Hotel bersebelahan dengan cafe, kalau malam hari, suara pengunjung yang karaoke terdengar sampai di kamar Standart Room dan  kamar kapsul. Di kamar Standart Room, suara musik tidak terlalu keras terdengar, mungkin karena efek ruangan yang dipasang busa-busa di salah satu dinding kamar tidur
  • Lokasi hotel berdekatan dengan area turis seperti area Pham Ngu Lao
  • Untuk menuju ke Hotel, dari Bandara Tan Son Nhat gunakan taksi yang resmi seperti Vinasun, rata-rata tarifnya 200.000 Dong, begitu juga sebaliknya
  • Untuk booking via website hotel, bisa meluncur ke www.kaitekihotel.com

Rabu, 07 Mei 2014

[Review] Tune Hotel Penang

Ada rencana liburan ke George Town alias Penang? Bingung mau nginap dimana? Sama. Hehehe.
Milih penginapan di Penang sama seperti disodorin puluhan cowok cakep didepan mata dan akhirnya galau #tsaahh.

Akomodasi di sini banyak banget pilihannya, dari hotel berbintang sampai guest house. Akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke Tune Hotels, yang merupakan hotel dengan limited service. Pertimbangan saya memilih hotel ini karena menurut info yang saya dapat dari browsing internet, lokasinya strategis, dekat dengan Komtar, Chowrasta Market maupun tempat makan. 

Lobby Tune Hotels terdapat di lantai 2. Jadi ketika sampai di depan bangunan Tune Hotels, langsung menuju lift untuk segera Check In. Di lantai 1 bangunan Tune Hotels ini terdapat mini market Sevel dan sebuah meja resepsionis kecil yang menawarkan jasa Travel seperti Airport Transfer. 
Pintunya dengan sistem magnetik dan terintegrasi dengan sistem komputer
Untuk kamar, saya memilih single room tanpa jendela. Harga yang saya dapat untuk kamar ini setelah pajak sebesar RM 55.20. Ketika booking via website Tune Hotels.com, saya memilih tidak menggunakan AC, hair dryer, maupun toiletries dan apabila ingin menggunakan fasilitas tersebut, tentunya ada biaya tambahannya. Menurut kebijakan Tune Hotels, jam Check In adalah jam 2 siang, berhubung saya tiba jam 9 pagi, saya memutuskan untuk Check In awal dan dikenakan charge RM 15, dan itupun baru bisa masuk kamar jam 11 siang. Meskipun hotel ini berkonsep limited service, tempat tidurnya menggunakan King Koil semua. Gimana nggak betah coba. Selain itu, single room ini memiliki fasilitas kamar mandi dalam plus shower air hangat dan ruangan yang berdesaign minimalis. Untuk ukuran kamarnya memang tidak terlalu besar, berhubung saya sendirian, hal itu nggak jadi masalah buat saya. 
Tempat tidurnya empuk puk puk
Kamar mandi
Pintu kamar mandinya kaca
Tamu yang menginap di Tune Hotels mendapat fasilitas internet gratis yang berada di Lobby Lantai 2 dan untuk menggunakan internet ini harus ke resepsionisnya dulu untuk minta username dan password yang bisa digunakan kurang lebih 20 menitan. Kalau belum puas ya tinggal minta lagi aja username yang baru. Sayangnya di Tune Hotels ini tidak terdapat fasilitas breakfast. 

Dari Bandara Internasional Bayan Lepas Penang untuk menuju Tune Hotels bisa menggunakan taksi maupun bis Rapid Penang. Kalau mau gampang ya tinggal naik taksi dan langsung sampai di depan Hotel. Kalau mau coba naik Rapid Penang, langsung menuju ke halte bis di dekat pintu kedatangan internasional, naik bis 401E dan membayar sebesar RM 2.7, turunnya di Komtar Prangin Mall. Kalau nggak punya denah dimana letak Tune Hotels, mending nanya sama orang-orang sekitar yang ditemui, seperti yang saya lakukan ketika mencoba naik Rapid Penang ini, malahan beberapa orang menjawab nggak tahu dan bahkan malah menunjukkan arah jalan ke Fortune Hotel, mungkin mereka mendengar ucapan saya yang kurang jelas. Mudahnya, dari Komtar berjalan menuju ke Komtar Walk dan cari jembatan penyeberangan, dari jembatan ini sudah tampak bangunan Tune Hotels yang tinggi menjulang, tinggal ikuti saja jalanan Burmah tersebut.
Untuk balik ke Bandara Bayan Lepas, saya memanfaatkan jasa travel yang menyediakan fasilitas Airport Transfer di Lantai 1 Tune Hotels dengan membayar sebesar RM 25.

Tune Hotel
Downtown Penang 100
Jl Burmah – George Town, Penang

Selasa, 06 Mei 2014

Bersantai di Pulau Komodo


Labuan Bajo. Mendengar nama kota ini disebut, pasti yang terlintas dipikiran adalah Pulau Komodo. Yipii, bener banget. Saya dan rombongan menuju ke pelabuhan sekitar jam 8 pagi, maklum waktu itu bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri, sehingga kita harus menunggu awak kapal selesai sholat Id.

Tujuan pertama saya adalah Pulau Kelor. Untuk mencapainya dari pelabuhan membutuhkan waktu sekitar 2 jam-an. Rasanya lamaaa sekali, tapi nggak ada bosen-bosennya, lha wong pemandangannya aja ajib. View yang tepat untuk mengambil foto yaitu dengan mendaki bukit. Puas-puasin untuk foto senarsis-narsisnya sebelum kembali turun.
View Pulau Kelor dari puncak bukit
Santai dulu disini
Ayoo renang-renang disini
Berjemur matahari
Perjalanan selanjutnya  yaitu ke Loh Buaya atau Pulau Rinca. Setelah diskusi cukup lama, saya dan rombongan memilih short trek. Tidak jauh dari bagian tiket, dibawah salah satu bangunan terlihat beberapa komodo yang tidak terlalu besar dan tampaknya dia tertidur. Berjalan ke bagian belakang, di dekat penginapan, malah lebih banyak lagi komodonya dengan ukuran yang lebih besar. Ranger mewanti-wanti untuk tidak terlalu dekat mengambil gambar dengan hewan tersebut.
Mau nemuin komodo dulu
Komodonya lagi leyeh-leyeh
Ranger memberi penjelasan soal jalur trekking
Action dulu
Naik ke atas bukit, hamparan rumput kering kekuningan menyegarkan pandangan mata, view di sekitar Pulau Rinca keren banget, takjub melihat pemandangan dari atas bukit. Perfect.
View dari atas Pulau Rinca
Aku terbanggg
Di pertengahan jalan, ranger tiba-tiba menyuruh rombongan saya untuk tidak ramai, karena kita bertemu dengan komodo yang sedang berjalan di lintasan trek. Ternyata si komodo ini menuju ke bawah pohon dan mulai membuat semacam galian untuk dia huni.

Sesuai dengan jalurnya, short trek, tentu saja perjalanan tidak membutuhkan waktu lama, tiba-tiba sudah sampai lagi di tempat pertama saya memulai trekking. Tidak jauh dari tempat pembelian tiket, terdapat gazebo yang menjual souvenir khas Komodo, mengenai harganya, cukup mahal disini.

Perjalanan hari kedua di kepulauan Komodo dilanjutkan menuju Pulau Komodo atau Loh Liang. Saya dan rombongan sempat melihat bayi komodo bertengger di atas pohon  Disini, saya bertemu juga dengan rusa yang berkeliaran bebas di alam. Selanjutnya, saya tiba di Fregata Hill, dari sini kita bisa melihat dermaga Pulau Komodo.

Dermaga Pulau Komodo dari Fregata Hill

Di Pulau Komodo, populasi komodonya lebih banyak dan berkeliaran semaunya, tentu saja Ranger berkali-kali mengingatkan untuk waspada. Berhubung saya capek jalan, saya pun duduk jongkok di bawah pohon sembari memperhatikan teman-teman saya yang sedang asyik memotret hewan-hewan itu. Ehhh tiba-tiba si Ranger lagi-lagi bilang “jangan duduk disitu, nanti tiba-tiba komodonya muncul dari arah belakang nggak tau”. Ya sudah saya kembali berdiri dan berbaur dengan teman-teman yang lain.

Perjalanan berlanjut menuju ke Pink Beach. Akhirnya rasa penasaran akan pantai pink yang terkenal itu terobati juga. Untuk menuju ke daratan, saya dan rombongan harus berenang karena kapal tidak bisa mendekat. Saya pun tidak naik ke atas bukit, karena asik dengan foto-foto, main air dan snorkeling. Pemandangan bawah air di Pantai Pink ini keren banget, harus ke sini lagi.
Pantai Pink dari kejauhan
Puas di Pink Beach, kapal bergerak menuju ke Pulau Kanawa. Di Pulau Kanawa ini tersedia banyak penginapan, kalau mau bangun tenda boleh juga. Saya sempat melihat beberapa turis yang mendirikan tenda. Nggak banyak aktivitas yang saya lakukan disini, snorkeling sudah bosan, jadinya hanya memandang beningnya laut dari gazebo dan bersantai di hammock, beberapa teman saya ada yang memilih untuk menaiki bukit dan melihat keindahan Pulau Kanawa dari atas.

Ngomongin soal Pulau Komodo nggak ada habisnya, tapi kalau hanya sekedar tulisan kayaknya kurang seru. Jadi tunggu apalagi, kemasi barang-barangmu, beli tiket dan meluncur ke Labuan Bajo.

Ayo ke Komodo

Rabu, 26 Maret 2014

E-Magznya Blogger, Pastinya Notif!

Aktivitas ngeblog atau menuliskan pengalaman dari diri sendiri ke dalam suatu wadah online pastinya sangat menyenangkan. Dari sini, kita bisa mendapat teman-teman baru di dunia maya, yang tidak menutup kemungkinan sampai kopdar di dunia nyata. Siapa yang tidak tahu Warung Blogger? Teman-teman blogger yang tergabung dalam wadah ini berinisiatif untuk membuat sebuah E-Magz dan akhirnya edisi perdana E-Magz dari Warung Blogger ( @warung_blogger ) yaitu Notif! terbit pada bulan Februari 2014. Memasuki bulan Maret ini, edisi kedua Notif! tampil dengan sentuhan “Millenium”. Notif! juga memberikan kesempatan bagi pembaca untuk menyumbangkan tulisannya, siapa tahu tulisan kalian menginspirasi yang lain, tentunya dalam hal yang positif.

Edisi pertama Notif! download di link ini :
http://www.4shared.com/file/QkTpcxcTba/NOTIF_Magz__1st_Issue.html

Untuk edisi kedua Notif! monggo didownload di sini ya : http://bit.ly/1h7Z5Xi

Sukses terus Notif! Go Ahead.

Senin, 10 Maret 2014

Responsible Travel Yuk, Kenapa Tidak !

Traveling bukanlah sesuatu yang “wah” sekarang ini. Semua orang, dari kalangan mana saja, tua muda, remaja maupun dewasa bisa melakukannya. Dulu, ketika masih diberlakukan fiskal bagi mereka yang ingin bepergian ke luar negeri, mungkin frekuensi traveling tidak sesering seperti saat ini, terutama bagi mereka yang masih berstatus mahasiswa. Sekarang, jangankan karyawan, mahasiswa pun yang hobi jalan-jalan bisa dengan puas menyalurkan hobinya tersebut lantaran tiket promo mudah didapat dan kebijakan fiskal yang sudah dihapus. Gaya traveling pun bermacam-macam dan tergantung si pejalan. Mau geret koper oke, mau bawa backpack yang lebih praktis juga oke. Free.

Banyaknya pejalan yang traveling kesana kemari, membuat mereka menginginkan bentuk kenangan yang berbeda selain foto album, yaitu dengan menuangkan pengalamannya ke dalam tulisan di blog pribadi yang juga bertujuan sebagai tempat untuk berbagi info mengenai destinasi suatu tempat. Nah, dari sinilah akhirnya muncul blog-blog yang banyak mengulas tentang dunia traveling dan seluk-beluknya dan kerap disebut travel blogger.
Gili Trawangan yang membiru
Blog dari travel blogger ini memudahkan mereka yang hobi traveling, begitu juga dengan saya, rajin wara-wiri atau blogwalking untuk mencari referensi destinasi wisata yang akan saya tuju. Cerita keseruan dan review baik dari segi akomodasi maupun transportasi  dari travel blogger ini, juga menjadi pertimbangan saya ketika memutuskan untuk mencoba apa yang telah mereka lakukan. Dan sekarang, saya pun tidak perlu bersusah payah untuk mencari informasi destinasi wisata yang akan saya tuju, karena blog-blog seperti milik Ariev Rahman (www.backpackstory.me), Fahmi Anhar (www.fahmianhar.com), Debbzie (www.debbzie.com), Cumilebay (www.cumilebay.com) banyak bercerita mengenai tempat-tempat wisata baik domestik maupun internasional.

Traveling pun tidak asal sembarangan traveling, saya sendiri di tujuan wisata berusaha untuk menghormati adat maupun tradisi yang berlaku di sana. Seperti ketika berkunjung ke Wae Rebo di Flores yaitu dengan menjaga sopan santun, tidak membuang sampah sembarangan, baik ketika berada di kampung Wae Rebo maupun dalam perjalanan menuju Wae Rebo itu sendiri.
Selain itu, ketika saya liburan ke Gili Trawangan, saya menginap di salah satu rumah warga yang disewakan sebagai tempat penginapan. Traveling yang seperti ini bikin senang, kenapa ? Karena kita sebagai wisatawan, secara tidak langsung membantu perekonomian warga disana. Ya, bagaimanapun kalau pariwisata kita dikelola dengan baik, wisatawan mancanegara akan senang berkunjung ke Indonesia dan pastinya hal ini membawa keberuntungan bagi pemerintah di sektor wisata. Hal tersebut yang dinamakan dengan responsible travel.
Hijaunya Wae Rebo
Sebagai generasi muda, memang tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membuat Indonesia dalam waktu sekejap bisa mendapat “nama” di dunia pariwisata Internasional. Tapi, dengan usaha sederhana responsible travel yang diterapkan dalam setiap perjalanan traveling kita, hal itu sudah membantu pariwisata di negara kita ini.
© 2014 Ordinary Girls Blog. All rights reserved.