Ordinary Girls Blog

Kamis, 20 Agustus 2015

[TERIOS] Jelajahi Eksotisme Borneo Bersama TERIOS

|
Pulau Kalimantan yang juga mendapat nama panggilan Borneo memiliki banyak destinasi wisata yang menarik dan sayang untuk dilewatkan. Dulu saya pikir, “apa sih yang menarik dari Kalimantan, kebanyakan hutan dan seringnya menjadi trending topic karena kebakaran hutannya ?”. Eits, anggapan itu ternyata salah besar. Banyak sekali destinasi menarik yang bisa dijelajahi di tanah Borneo ini.

Saya hanya sekali menginjakkan kaki di Kalimantan, yaitu di Banjarmasin dengan waktu kunjungan hanya 3 hari saja, waktu yang amat singkat untuk mengexplore seluruh keindahan alam, menikmati kuliner yang enak-enak dan saya pun berjanji pada diri sendiri kalau suatu saat nanti harus kembali lagi ke sini.

Nah, melihat potensi wisata yang perlahan mulai berkembang di Indonesia, pihak Daihatsu tahun ini kembali mengadakan sensasi bertualang seru dengan jalur darat bersama mobil tangguh New Daihatsu Terios yang bertema “Borneo Wild Adventure”. Daihatsu Terios 7 Wonders ini memiliki 7 destinasi keren yang akan dijelajahi. Saya pribadi jelas tidak akan melewatkan satu destinasi pun, karena semua destinasi pilihan Daihatsu keren banget. 

Destinasi Borneo Wild Adventure

Jadi, kemana tujuan pertama Borneo Wild Adventure nih?
Yup, Palangkaraya mendapat kehormatan untuk dijelajahi pertama kali. Kota yang dibelah Sungai Kahayan ini memiliki objek wisata alam yang menarik. Disini petualang Terios akan mendatangi “rumah asli” dari Orang Utan, melihat lebih dekat dan bertemu langsung dengan mereka pasti seru. Di TN. Sebangau, selain mengamati tingkah laku hewan lucu Orang Utan tadi, petualang Terios juga bisa menemui hewan beruang madu, macan dahan dan kucing hutan. Kalau sudah tiba di Palangkaraya, jangan lewatkan momen untuk berfoto dengan Jembatan Kahayan yang menjadi landmark dari kota dengan luas wilayah terbesar di Indonesia. Pastinya nih, tidak lengkap rasanya kalau nggak mencicipi kuliner khasnya, yaitu Juhu Singkah atau sayur rotan yang merupakan makanan khas dari Suku Dayak.

Jembatan Kahayan ( Sumber Foto dari sini )

Orang Utan ( Sumber Foto dari sini )
Palangkaraya tidak hanya seru dinikmati alam dan kulinernya, wisata budayanya pun juga menarik. Sebut saja Museum Balanga. Di Museum ini, petualang Terios disuguhi informasi tentang Suku Dayak. Semakin cerdas saja nih petualang Terios.

Museum Balanga ( Sumber Foto dari sini )

Destinasi selanjutnya kemana kakak? Yuk, Menikmati Kota Seribu Masjid, Banjarmasin.
Dari Palangkaraya, petualang Terios akan melanjutkan perjalanan kurang lebih 4 jam menuju Banjarmasin dengan melewati megahnya Jembatan Barito. Pastinya tidak lupa untuk menuju Kruing, yang terkenal dengan wisata kulinernya yaitu menikmati durian. Saya sendiri bukan pecinta buah durian. Siapa tahu ketika di Kruing nanti, saya berani mencobanya. Selain buah Durian, tentu saja kuliner Lontong Orari jangan sampai terlewatkan. Konon, belum afdol ke Banjarmasin kalau belum mencoba menikmati makanan khas satu ini. Makanan ini sangat unik, lontong berbentuk segitiga disiram dengan kuah nangka muda ditambah dengan ikan haruan yang sudah digoreng dan sebutir telur rebus. Ehmmm membayangkannya saja sudah bikin saya ngiler duluan.

Lontong Orari ( Sumber Foto dari sini )

Mengamati Tingkah Lucu Bekantan di Pulau Kaget
Bekantan adalah monyet besar berhidung besar dan panjang. Bekantan ini merupakan maskot fauna dari Banjarmasin dan jumlah populasinya di Pulau Kaget terus bertambah setiap tahunnya. Selain Bekantan, petualang Terios juga dapat melihat hewan lain seperti Kera ekor panjang dan Lutung. Pastinya, kawasan wisata di Pulau Kaget ini merupakan wisata alam yang menyenangkan.
Bekantan ( Sumber Foto dari sini )

Menikmati wisata alam dan kuliner di Kandangan
Tiba di Provinsi Kalimantan Selatan tidak hanya mengeksplorasi Banjarmasin saja dong. Dari Banjarmasin, perjalanan diteruskan ke Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan Kandangan sebagai ibukotanya.
Apa saja yang bisa dilakukan disini? Ini dia jawabannya.

Mencoba kuliner ketupat kandangan. Ketupat kandangan disediakan dengan gulai santan dan ikan haruan (gabus) yang dipanggang menggunakan arang kayu. Ikannya tidak langsung dicampur dengan kuah gulai, tetapi dibuat terpisah. Setelah dipanggang dalam tusukan sate, kemudian ikan haruan (gabus) ini dicelup dalam kuah gulai dan disajikan bersama potongan ketupat.

Ketupat kandangan. Yummy ( Sumber Foto dari sini )

Selain kuliner yang lezat tadi, petualang Terios dapat memacu adrenalin dengan menyusuri Sungai Amandit dengan Loksado Bamboo Rafting-nya. Apa cukup disini saja? Tentu tidak. Di Loksado, petualang Terios juga dapat mengunjungi wisata budaya di Balai Adat Malaris yang berjarak 1 km dari Loksado. Balai ini merupakan balai terbesar yang ada di Pegunungan Meratus yang dimiliki oleh masyarakat Dayak Loksado.

Seru-seruan di Bamboo Rafting Loksado ( Sumber Foto dari sini )
Melihat Keunikan Alam di Amuntai
Destinasi berikutnya dari rangkaian Borneo Wild Adventure yaitu singgah di Kota Amuntai. Kota ini diapit oleh dua sungai yaitu Sungai Tabalong dan Sungai Balangan. Di Kota Amuntai, petualang Terios dapat mengunjungi Candi Agung Amuntai. Objek wisata Candi ini terletak di Desa Sungai Malang, Kecamatan Amuntai Tengah. Candi Agung Amuntai merupakan peninggalan dari Kerajaan Negaradipa Khuripan dan dari Kerajaan ini akhirnya muncul Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin.
Candi Agung Amuntai ( Sumber Foto dari sini )

Ada keunikan lain tidak dari Kota Amuntai ini? Jawabannya ada dong.
Selama ini saya cukup tahu saja kalau kerbau adalah binatang yang hidup di darat dan rumput sebagai makanan sehari-harinya. Ternyata, di Amuntai ini kerbau bisa berenang. Justru karena keunikannya yang dapat berenang ini, hampir tiap tahunnya diadakan lomba renang antar kerbau rawa. Uniknya lagi, peternakan kerbau rawa ini berada di kalang yang dibangun di atas rawa. Kalang terbuat dari kayu-kayu besar yang disusun di tengah rawa sebagai tempat berteduhnya kerbau rawa tersebut. Seru ya menyaksikan lomba renang kerbau?
Kerbau Rawa Amuntai ( Sumber Foto dari sini )

Selain itu, Amuntai juga terkenal dengan itik Alabionya sehingga mendapat julukan Kota Itik. Maka dari itu, kulinernya pun nggak jauh-jauh dari hewan ini, yaitu itik panggang dan itik goreng. Patut dicoba kalau ke Amuntai nih Petualang Terios!.


Perjalanan berlanjut menuju ke Desa Budaya Pampang. Disini petualang Terios bisa belajar tentang budaya dari Samarinda. Desa ini dihuni oleh suku Dayak Kenyah. Uniknya dari gedung ini karena berupa rumah adat Dayak dengan ukiran khas suku. Jangan lupa juga kalau sudah disini untuk berfoto mengenakan pakaian adatnya. Berkunjung ke Samarinda jangan lupa untuk icip-icip makanannya. Petualang Terios dapat menikmati nasi kuning khas Samarinda dengan suwiran ikan gabus. Selain itu, ada pula makanan khas seperti puyu bakar, ayam banjar sampai terong bakar. Tidak bisa menolak kalau ada makanan enak nih.

Desa Budaya Pampang ( Sumber Foto dari sini )
Yipii, Pulau Maratua surganya Dunia Bawah Laut
Pantai... Saya suka pantai ! Destinasi selanjutnya adalah ke pantai. Yup, destinasi terakhir Borneo Wild Adventure yaitu Maratua. Salah satu pulau terkenal di Kepulauan Derawan. Pulau Maratua sendiri berada di posisi terluar Indonesia yaitu di Laut Sulawesi yang berbatasan dengan negara Malaysia dan Filipina.

Saya sendiri suka tidak tahan kalau melihat laut dengan air biru toscanya, tidak tahan buat tidak diceburin sih. Snorkeling melihat keindahan terumbu karang disana pasti sangat menyenangkan. Saya mengetahui kalau Indonesia memiliki pantai dan laut indah seperti Maldives ini dari membaca majalah kesayangan, dari situ saya browsing dan ternyata memang indah banget. Destinasi impian untuk dunia bawah laut nih.

Biru lautnya Maratua ( Sumber Foto dari sini )
BERPETUALANG BERSAMA TERIOS SAHABAT PETUALANG
Borneo roadtrip ini mengharuskan untuk berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain dan akan menyenangkan jika di dukung dengan transportasi yang mumpuni juga. Perjalanan Terios 7 Wonders - Borneo Wild Adventure pas banget kalau ditemani dengan mobil Terios dari Daihatsu. Kenapa pilih Daihatsu Terios? Ini dia alasannya :

Keamanan dan Kenyamanan Daihatsu Terios tidak perlu diragukan lagi. Daihatsu Terios sudah dilengkapi dengan Dual SRS Airbag yang akan membuat pengemudi dan penumpang aman ketika terjadi benturan. Body mobil tahan banting dengan adanya Side Impact Beam dan Anti Lock Braking System jika terjadi tabrakan dari samping dan semua kursi penumpang terpasang seatbelt sehingga lebih aman.


Kadangkala untuk menghilangkan kejenuhan di jalan, lebih baik diisi dengan membaca buku kesayangan. Nah, mobil Daihatsu Terios ini menyediakan storage yang multifungsi. Buku kesayangan bisa disimpan di Glove Box maupun Seat Back Pocket. Memudahkan penumpang untuk mengambilnya. Botol minuman pun bisa ditaruh dengan aman di Door Trim Pocket serta Coin Box yang bisa dimanfaatkan untuk meletakkan uang recehan ketika membayar parkir.


Terios tangguh untuk dikendarai jarak jauh apalagi medan roadtrip di Kalimantan tidak hanya jalanan mulus saja. Masih ingat dengan cerita perjalanan Terios dari Jakarta ke Labuan Bajo tahun 2013 lalu? Daihatsu Terios sempat mampir ke Gunung Merapi di Jogya maupun Pantai Sawarna dengan kondisi jalan yang berbatuan dan tidak membuat mobil ini keok begitu saja. Suspensinya empuk dengan mesin berkapasitas 1500 cc, mesin Eliable Engine 1.5 DOHC VVT-i, mobil ini mampu melewatinya tanpa hambatan.
Tangguh ( Sumber Foto dari sini )

Apalagi buat saya yang hobi mendengarkan musik, mobil Daihatsu Terios ini memudahkan saya kalau menyetir untuk mengatur volume audio, tanpa harus memalingkan wajah ke dashboard audio. Karena sistem audionya sudah terintegrasi dengan kemudi.

Jadi, kemanapun perginya, mobil Daihatsu Terios tangguh dan handal untuk dikendarai dan memang benar-benar Sahabat Petualang nih.


Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Borneo Wild Adventure yang diadakan oleh Daihatsu dan viva.co.id







Kamis, 13 Agustus 2015

Menginap Cantik di B&B Rumah Paris Yogyakarta

Keinginan saya untuk mencari suasana yang beda ketika liburan ke Yogyakarta adalah ”mengungsi” sementara ke Kabupaten Bantul. Mengungsinya bukan karena di Yogya sedang ada demo besar-besaran, melainkan karena saya mempunyai wish list untuk menginap di Rumah Paris. Yang membuat saya ingin menginap disini tentunya karena desain, dekorasi dan konsepnya yang berbeda dengan hotel pada umumnya.
Browsing adalah cara terbaik untuk mencari tahu lebih lanjut soal Rumah Paris sebelum memutuskan untuk memilih type kamar yang mana. Booking saya lakukan via website www.agoda.com. Penginapan Rumah Paris ini  berkonsep Bed & Breakfast. Kamar yang disediakan hanya 3 kamar dan tiap kamar memiliki dekorasi yang berbeda sesuai dengan konsepnya.

Rumah Paris tampak depan di siang hari
Rumah paris di malam hari
Meja resepsionis menyambut saya kala itu

Type kamar Shabbychic Room yaitu kamar dengan nuansa girly, lengkap dengan tungku pemanas layaknya rumah di negara yang mengalami musim dingin, kamar World Traveller dengan pernak pernik travelnya dan Beach Cottage dengan nuansa pantainya. Ketika saya booking, kamar yang tersedia pada tanggal yang saya pilih hanya tersisa Beach Cottage. Mungkin karena bertepatan dengan liburan tahun baru. Mau nggak mau harus saya pilih dong, nggak ada pilihan kamar lain sih.

Perjalanan dari Yogya saya tempuh kurang lebih 1 jam-an dengan sepeda motor. Jalan yang dilalui merupakan jalur ke Parangtritis jadi tidak sulit untuk menemukan Rumah Paris, karena di pinggir jalan besar ada plang nama yang mengarah ke jalan Rumah Paris.
Nonton TV aja betah disini

Tangga menuju lantai 2

Pernak perniknya cantik cantik kakak
Semua sudut rumah, OK buat background foto cantik

Tiba di depan Rumah Parisnya saja sudah bikin saya terkagum-kagum, keren banget dari luar.
Membuka pintu ruang tamu, disebelah kiri langsung disambut oleh mas-mas resepsionis. Langsung saya menunjukkan bukti booking via web agoda dan kunci kamar diserahkan ke saya. Masuk ke ruang tengah, saya dibuat terpesona lagi dengan interior dan dekorasinya. Ruang tengahnya menyatu dengan dapur dan meja makan, antara staf hotel dan tamu terasa tidak ada sekat.

Staf Rumah Paris mempersilahkan saya untuk menuju ke Lantai 2, karena kamar saya berada di Lantai 2. Lagi-lagi saya dibuat terpesona dengan interior di lantai 2 ini. Kursi panjang dan bantal-bantal lucu menyambut saya tepat setelah tangga kayu berakhir. Penataan interiornya pas banget dan keren. Padahal belum masuk ke kamar lho. Pintu kamar Beach Cottage segera saya buka, voilaa… lagi-lagi saya dibuat terpesona untuk kesekian kalinya.
Yes, My Room
Welcome to my room

Salah satu sisi dinding kamar


Betah kalo duduk lama-lama di toilet hehe
Rumah Paris tampak belakang

Halaman belakang
Kamar yang bersih dan atribut dengan nuansa pantai pun tertata apik di tiap sudutnya. Mengintip ke kamar mandinya, kesan yang muncul jadi nggak tega buat menggunakan kamar mandinya hahaha. 2 buah handuk bersih dan wangi, toiletries sudah siap sedia di dalamnya.






Puas mengagumi isi kamar, saya pun mulai berkeliling di Rumah Paris. Mulai dari ruang tengah sampai ke halaman belakang. Barang-barang yang dipajang disini beberapa bisa dibeli lho. Semuanya menarik dan pengen saya beli. Pajangan dengan nuansa vintage sangat menarik buat saya. Vintage bukan berarti jadul banget dong.

Oia, sebagai tamu hotel, saya bebas mau foto-foto sesuka hati selama yang saya mau. Sedangkan untuk pengunjung dibatasi waktunya, dan apabila kamar hotel sudah ada yang menghuni, pengunjung pasti sedih nggak bisa foto-foto di kamar-kamar yang ada disana.

Di halaman belakang, terdapat semacam gazebo dengan atap tanaman yang melilit diatasnya, kesannya teduh banget kalau di siang hari nongkrong disana. Di area ini kita bisa duduk manja sambil membaca buku. Everything you do, it’s like yours home.
Dapurnya keceh

Ruang tengahnya manis kan

Untuk sarapannya, saya memilih nasi goreng. Sekitar jam 8, staf hotel sudah siap dengan menu di meja makan. FYI, staf hotelnya baik dan ramah. Oya, satu rumah ini bisa disewa lho. Apalagi kalau sewanya rame-rame bersama keluarga. Pasti seru banget tuh.

Lain kali saya pasti menginap disini lagi, tentunya mau nyobain kamar yang lainnya.

Rumah Paris
Jl. Parangtritis KM 8,4
Sewon - Bantul
Yogyakarta
Follow Juga :
IG : @rumahparis

Kamis, 23 Juli 2015

Mengenal Asia Camera Museum Penang


Mondar-mandir di sekitar Jalan Burmah Penang, membuat saya penasaran dengan sebuah bangunan megah berwarna dominan putih dengan halaman yang cukup luas. Tiap kali melewati bangunan ini, nggak tampak pengunjung yang hilir mudik di sana. Dari plang yang terpajang di luar pagar, tertera tulisan Asia Camera Museum. Tapi saya ragu untuk melangkahkan kaki ke dalamnya, karena takut salah kamar hehehe.

Seperti pepatah, tak kenal maka tak sayang, saya tepiskan keraguan saya untuk mencoba melangkahkan kaki ke sana #tsaahh.

Di bagian resepsionis depan, satu orang laki-laki berperawakan kurus tinggi dengan tampang kokoh-kokoh dan satu orang cewek menyambut saya. Mereka menanyakan maksud kedatangan saya dan saya pun menjawabnya dengan ramah.
Koleksi Foto-Foto yang terpajang rapi di salah satu dinding

”Mau lihat-lihat koleksi kamera”

”Silahkan ke lantai 2”, jawabnya juga ramah

Saya pun naik ke lantai 2, di sekitar tangga dipasang semacam sensor yang akan berbunyi seperti suara bel rumah ketika ada orang yang melaluinya, sebagai pertanda bagi petugas yang berjaga di lantai 2 bahwa ada pengunjung yang datang.


Koleksi kameranya lengkap

Semua kamera kuno ada disini

Bapak paruh baya berkacamata menyambut kedatangan saya sore itu, saya kira Free masuk kesini, ehh ternyata tidak. Untuk masuk ke lantai 2 pengunjung membayar RM 20. Tapi nggak rugi juga kok mengeluarkan duit sebesar itu. Bapak yang bertugas pun menanyakan asal saya dari negara mana dan setelah tahu asal saya dari Indonesia, dia dengan senang hati menjadi guide saya untuk menjelaskan beragam jenis kamera dari awal mula muncul sampai sekarang, sejarahnya sampai segala inovasi-inovasi yang berhubungan dengan kamera, tentunya dengan bahasa Melayu yang masih bisa saya tangkap dengan baik artinya. 



Koleksi kamera disini menurut saya sangat lengkap. Guide saya menjelaskan satu-persatu koleksi yang dipamerkan di museum tersebut. Saya selanjutnya diajak ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, yang berisi lemari-lemari dengan pajangan kamera DSLR dengan beragam merk, dari jaman jadul sampe modern. Terdapat juga model kamera jaman kuno yang untuk mengambil kamera obyek seperti pas foto harus berlindung dibalik kain.


Lalu, saya di bawa ke ruangan selanjutnya yang lebih kecil lagi, tampak dua pekerja laki-laki yang masih muda berada di ruangan ini. Di dalam ruangan, terdapat pajangan foto-foto dan juga pendiri studio foto pertama di Pulau Penang ini. 



Kelar diajak berkeliling di lantai 2 yang nggak terlalu luas ini, guide memberi saya kenang-kenangan berupa Postcard dan kacamata kertas 3D. Wisata yang cukup menghibur dan edukatif tentunya.


ASIA CAMERA MUSEUM

10, Burma Road – Penang

Selasa, 07 April 2015

[REVIEW] Wake Up Homestay Yogyakarta

Banyak sekali tujuan destinasi untuk sekedar menghabiskan liburan singkat di akhir tahun. Sama seperti yang saya lakukan, sehari sebelum libur akhir tahun, ”otak” saya mendadak mengajak untuk liburan ke Yogyakarta. Hanya berbekal tiket kereta api yang dibeli malam sebelumnya, saya melenggang kangkung dengan kereta Eksekutif Argo Wilis tujuan Surabaya – Yogyakarta yang hanya ditempuh dalam waktu 4 jam saja.

Kesalahan yang saya lakukan adalah tidak melakukan booking sama sekali mengenai penginapannya. Alhasil, sesampainya disana muter-muter naik becak buat nyari hotel dan hampir semua hotel penuh, terutama yang berada di lokasi strategis Malioboro. Dan karena nggak ada perjanjian sebelumnya dengan tukang becaknya, saya kena tarif yang lumayan menohok hahaha.

Ketika melintasi Jalan Sosrowijayan, tepatnya di ujung jalan yang bukan bertepatan langsung dengan Malioboro, pandangan saya langsung tertuju pada bangunan minimalis bernuansa hijau dengan tulisan di dinding kaca ”Wake Up Homestay”. 
Sofa di Lobby yang nyaman banget
Meja Resepsionis
Tampak Depan
 
Segera saya masuk dan menemui resepsionis di lobby.
” Siang, apa ada kamar yang masih kosong? ” tanya saya pada mas-mas Jawa yang kalem itu
” Masih ” jawabnya ramah
Si Mas mulai menerangkan bahwa type kamar yang ada di Wake Up Homestay berkonsep dorm dan shared bath room.
” Wahhh asik nih ” pikir saya
Tanpa ba bi bu lagi, saya langsung pesan 1 bed di Female Dorm yang berisikan 4 bed.

Yang membuat saya terkesan dengan Homestay ini, bersih banget dari lobby sampai ke lantai 2 maupun 3. Desain interiornya modern dan tertata apik dengan tambahan lukisan di salah satu dindingnya. Di Lobby terdapat satu meja kecil dengan teko listrik dan wadah roti tawar yang digunakan tamu hostel untuk breakfast. Dekorasi yang minimalis layaknya hostel-hostel di Luar Negeri.
Persediaan untuk breakfast tamu hostel

Terus breakfast-nya ? Ya seperti hostel umumnya, hostel ini menyediakan roti dengan beragam rasa selai dan pilihan minuman teh maupun kopi.

Female Dorm tempat saya tidur berada di lantai 2. Ukurannya memang tidak terlalu luas, tapi nggak menjadi masalah buat saya. Tiap tamu mendapat fasilitas kunci loker yang berada di samping tempat tidur, handuk dan gantungan baju. Sedangkan di masing-masing bed terdapat colokan listrik yang bebas mau digunakan sepuas hati. Harga yang ditawarkan yaitu sebesar 175K. Harga yang cukup bersahabat.
Bunk Bed  

Lampu baca dan colokan listrik ada di tiap-tiap bed
Selain Female Dorm, terdapat juga Private Room yang bisa diisi hingga 6 orang dengan harga 750K. Kalau datang beramai-ramai shared cost-nya nggak terlalu mahal juga kan?
AC di kamar pun menyala dengan sangat baik dan sukses membuat saya dan teman sekamar kedinginan. It works.

Bagaimana dengan Bath Room ?
Bath room terdapat di tiap lantai dan dibedakan antara cowok dan cewek #yaiyalah. Shower room dan toilet pun terpisah dengan jumlah 3 room yang pastinya nggak akan bikin tamu hostel mengantri cukup lama dan yang penting bersih.
Wastafel

Wastafel lengkap dengan Hand Soap

Shower Room

Di Hostel ini juga terdapat rooftop yang nantinya digunakan buat sekedar duduk-duduk manis dan bercengkrama dengan tamu hostel yang lain, karena penasaran saya pun naik ke rooftop. Sayangnya saat saya menginap disana, masih dalam tahap renovasi.
View dari Rooftop
Area Rooftop yang masih direnovasi
Yang saya suka selain hostelnya yang nyaman dan bersih adalah staffnya yang  friendly dan menyenangkan untuk diajak sharing soal tempat wisata di sekitar Yogyakarta. Buat yang nyari suasana beda dari hotel-hotel lainnya, Wake Up Homestay bisa menjadi alternatif pilihan yang menarik.


Wake Up Homestay
Jl. Gandekan Lor No. 44
Yogyakarta
Phone : (0274) 514762
Twitter : @wakeuphomestay
Web : www.wakeuphomestay.com
© 2014 Ordinary Girls Blog. All rights reserved.