Ordinary Girls Blog

Kamis, 23 Juli 2015

Mengenal Asia Camera Museum Penang



Mondar-mandir di sekitar Jalan Burmah Penang, membuat saya penasaran dengan sebuah bangunan megah berwarna dominan putih dengan halaman yang cukup luas. Tiap kali melewati bangunan ini, nggak tampak pengunjung yang hilir mudik di sana. Dari plang yang terpajang di luar pagar, tertera tulisan Asia Camera Museum. Tapi saya ragu untuk melangkahkan kaki ke dalamnya, karena takut salah kamar hehehe.
Seperti pepatah, tak kenal maka tak sayang, saya tepiskan keraguan saya untuk mencoba melangkahkan kaki ke sana #tsaahh. 

Di bagian resepsionis depan, satu orang laki-laki berperawakan kurus tinggi dengan tampang kokoh-kokoh dan satu orang cewek menyambut saya. Mereka menanyakan maksud kedatangan saya dan saya pun menjawabnya dengan ramah.

”Mau lihat-lihat koleksi kamera”
”Silahkan ke lantai 2”, jawabnya juga ramah
Saya pun naik ke lantai 2, di sekitar tangga dipasang semacam sensor yang akan berbunyi seperti suara bel rumah ketika ada orang yang melaluinya, sebagai pertanda bagi petugas yang berjaga di lantai 2 bahwa ada pengunjung yang datang.

Bapak paruh baya berkacamata menyambut kedatangan saya sore itu, saya kira Free masuk kesini, ehh ternyata tidak. Untuk masuk ke lantai 2 pengunjung membayar RM 20. Tapi nggak rugi juga kok mengeluarkan duit sebesar itu. Bapak yang bertugas pun menanyakan asal saya dari negara mana dan setelah tahu asal saya dari Indonesia, dia dengan senang hati menjadi guide saya untuk menjelaskan beragam jenis kamera dari awal mula muncul sampai sekarang, sejarahnya sampai segala inovasi-inovasi yang berhubungan dengan kamera, tentunya dengan bahasa Melayu yang masih bisa saya tangkap dengan baik artinya. 

Koleksi kamera disini menurut saya sangat lengkap. Guide saya menjelaskan satu-persatu koleksi yang dipamerkan di museum tersebut. Saya selanjutnya diajak ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, yang berisi lemari-lemari dengan pajangan kamera DSLR dengan beragam merk, dari jaman jadul sampe modern. Terdapat juga model kamera jaman kuno yang untuk mengambil kamera obyek seperti pas foto harus berlindung dibalik kain.

Lalu, saya di bawa ke ruangan selanjutnya yang lebih kecil lagi, tampak dua pekerja laki-laki yang masih muda berada di ruangan ini. Di dalam ruangan, terdapat pajangan foto-foto dan juga pendiri studio foto pertama di Pulau Penang ini. 

Kelar diajak berkeliling di lantai 2 yang nggak terlalu luas ini, guide memberi saya kenang-kenangan berupa Postcard dan kacamata kertas 3D. Wisata yang cukup menghibur dan edukatif tentunya.


ASIA CAMERA MUSEUM

10, Burma Road – Penang

Selasa, 07 April 2015

[REVIEW] Wake Up Homestay Yogyakarta

Banyak sekali tujuan destinasi untuk sekedar menghabiskan liburan singkat di akhir tahun. Sama seperti yang saya lakukan, sehari sebelum libur akhir tahun, ”otak” saya mendadak mengajak untuk liburan ke Yogyakarta. Hanya berbekal tiket kereta api yang dibeli malam sebelumnya, saya melenggang kangkung dengan kereta Eksekutif Argo Wilis tujuan Surabaya – Yogyakarta yang hanya ditempuh dalam waktu 4 jam saja.

Kesalahan yang saya lakukan adalah tidak melakukan booking sama sekali mengenai penginapannya. Alhasil, sesampainya disana muter-muter naik becak buat nyari hotel dan hampir semua hotel penuh, terutama yang berada di lokasi strategis Malioboro. Dan karena nggak ada perjanjian sebelumnya dengan tukang becaknya, saya kena tarif yang lumayan menohok hahaha.

Ketika melintasi Jalan Sosrowijayan, tepatnya di ujung jalan yang bukan bertepatan langsung dengan Malioboro, pandangan saya langsung tertuju pada bangunan minimalis bernuansa hijau dengan tulisan di dinding kaca ”Wake Up Homestay”. 
Sofa di Lobby yang nyaman banget
Meja Resepsionis
Tampak Depan
 
Segera saya masuk dan menemui resepsionis di lobby.
” Siang, apa ada kamar yang masih kosong? ” tanya saya pada mas-mas Jawa yang kalem itu
” Masih ” jawabnya ramah
Si Mas mulai menerangkan bahwa type kamar yang ada di Wake Up Homestay berkonsep dorm dan shared bath room.
” Wahhh asik nih ” pikir saya
Tanpa ba bi bu lagi, saya langsung pesan 1 bed di Female Dorm yang berisikan 4 bed.

Yang membuat saya terkesan dengan Homestay ini, bersih banget dari lobby sampai ke lantai 2 maupun 3. Desain interiornya modern dan tertata apik dengan tambahan lukisan di salah satu dindingnya. Di Lobby terdapat satu meja kecil dengan teko listrik dan wadah roti tawar yang digunakan tamu hostel untuk breakfast. Dekorasi yang minimalis layaknya hostel-hostel di Luar Negeri.
Persediaan untuk breakfast tamu hostel

Terus breakfast-nya ? Ya seperti hostel umumnya, hostel ini menyediakan roti dengan beragam rasa selai dan pilihan minuman teh maupun kopi.

Female Dorm tempat saya tidur berada di lantai 2. Ukurannya memang tidak terlalu luas, tapi nggak menjadi masalah buat saya. Tiap tamu mendapat fasilitas kunci loker yang berada di samping tempat tidur, handuk dan gantungan baju. Sedangkan di masing-masing bed terdapat colokan listrik yang bebas mau digunakan sepuas hati. Harga yang ditawarkan yaitu sebesar 175K. Harga yang cukup bersahabat.
Bunk Bed  

Lampu baca dan colokan listrik ada di tiap-tiap bed
Selain Female Dorm, terdapat juga Private Room yang bisa diisi hingga 6 orang dengan harga 750K. Kalau datang beramai-ramai shared cost-nya nggak terlalu mahal juga kan?
AC di kamar pun menyala dengan sangat baik dan sukses membuat saya dan teman sekamar kedinginan. It works.

Bagaimana dengan Bath Room ?
Bath room terdapat di tiap lantai dan dibedakan antara cowok dan cewek #yaiyalah. Shower room dan toilet pun terpisah dengan jumlah 3 room yang pastinya nggak akan bikin tamu hostel mengantri cukup lama dan yang penting bersih.
Wastafel

Wastafel lengkap dengan Hand Soap

Shower Room

Di Hostel ini juga terdapat rooftop yang nantinya digunakan buat sekedar duduk-duduk manis dan bercengkrama dengan tamu hostel yang lain, karena penasaran saya pun naik ke rooftop. Sayangnya saat saya menginap disana, masih dalam tahap renovasi.
View dari Rooftop
Area Rooftop yang masih direnovasi
Yang saya suka selain hostelnya yang nyaman dan bersih adalah staffnya yang  friendly dan menyenangkan untuk diajak sharing soal tempat wisata di sekitar Yogyakarta. Buat yang nyari suasana beda dari hotel-hotel lainnya, Wake Up Homestay bisa menjadi alternatif pilihan yang menarik.


Wake Up Homestay
Jl. Gandekan Lor No. 44
Yogyakarta
Phone : (0274) 514762
Twitter : @wakeuphomestay
Web : www.wakeuphomestay.com

Kamis, 22 Januari 2015

Nongkrong Asik di George Town White Coffe Penang

Ketika traveling ke luar negeri, nggak ada salahnya sesekali nongkrong cantik di Cafe dong. Seperti yang saya lakukan ketika traveling ke Penang. Itupun karena nggak sengaja masuk ke Cafe ini akibat perasaan nggak enak dibuntuti orang asing yang ”menakutkan”. Hampir tiap hari saya lewat di depan Cafe yang bernama George Town White Coffe yang berada di Komtar Walk ini ketika akan menuju ke Komtar. Lokasinya mudah dijangkau dari Komtar dan Tune Hotel, tinggal jalan kaki saja.

Suasana cafenya nyaman, sekilas tampak luar bangunannya seperti bergaya Eropa, pengunjung tinggal pilih mau duduk di dalam ruangan atau diluar.


Menu yang saya pesan, porsinya cukup mengenyangkan buat saya, yaitu Nasi Lemak Nyonya Curry seharga RM 8.90 saja. Nasi lemaknya gurih banget, daging ayamnya terasa empuk dan berpadu apik dengan bumbu-bumbu rempahnya. 
Enrich Chocolate Cold
Nasi Lemak
Untuk minumannya saya memesan Enrich Chocolate Cold dengan harga RM 4.50, seruputan pertama langsung bikin tenggorokan seger. 

Kalau kamu ke Penang, coba deh mampir ke sini, nggak rugi kok #PromosiDikit

George Town White Coffe

Lot 15&16, Komtar Walk

George Town – Penang, Malaysia

Selasa, 14 Oktober 2014

Menikmati Sajian Lumpia ala Racel Risol Malang

Ngomongin kuliner Malang nggak ada habisnya termasuk dengan segala inovasinya. Lumpia! Yap, makanan ringan yang sangat merakyat ini hadir dengan inovasi baru. Kalau selama ini, lumpia yang saya tahu isinya irisan sayur-sayuran dan saya pun juga nggak begitu doyan.
Tapi, kalau ngerasain lumpia yang ada di Malang, tepatnya di Racel Risol, bakalan ketagihan deh. 

Dimana sih tempatnya?
Tempat tongkrongan yang selalu ramai ini, terletak di daerah pemukiman, agak masuk gitu lokasinya, tapi gampang kok nyarinya, apalagi nggak jauh dari tempat pujaseranya Pulosari Malang yang terkenal itu. Tempat nongkrong dengan 2 lantai ini menghadirkan suasana ala rumahan yang nyaman buat nongkrong lama hehe

Terus menunya?
Cukup bervariasi kok. Saya sih hanya pesan Meat Lova dengan harga hanya 6K dan Frape-Frape seharga 13K. Murah kan.

Lelehan mayonaisenya yummy
Ketika memotong lumpianya, lelehan mayonaise-nya keluar perlahan dan yummy banget. Tampilan penyajiannya juga nggak biasa lho, lumpia disajikan di atas talenan dengan lapisan seperti kertas kue dan disajikan hangat-hangat dan ditaburi parutan keju.
Frape-Frape
Meat Lova
Menu
Untuk pilihan minumnya, nggak salah pilih Frape-Frape yang ditambah dengan remahan oreo. Sangat menyegarkan tenggorokan.
Jadi, kalau datang ke Malang, jadwalkan untuk mampir ke Racel Risol juga ya.


RACEL RISOL
Jl. Pandan 21, Pulosari
Malang
Twitter @RacelRisol

Rabu, 08 Oktober 2014

Nongkrong Asik di Buckingham Cafe Malang

Bingung mau nongkrong dimana kalau ke Malang?
Berbekal info dari twitter @infokostmalang yang saya follow, saya menemukan akun twitter @buckinghammlg. Waduhh dari promonya aja, foto-foto menunya bikin ngiler. Nah, pas banget saya ada agenda untuk berkunjung singkat di kota yang sempat saya tinggali selama 4 tahunan ini. Berbekal alamat yang saya dapat dari profile twitternya, saya pun naik ojek kesana hehehe. Sampai dibelain telepon ke nomer yang tertera di profilenya. Niat banget deh.

Gimana sih cafenya?
Ketika saya datang, cafe masih tampak sepi, ”asikk jadi berasa di cafe sendiri”, pikir saya hehe. Pertama masuk ke cafe ini, seperti berada di Eropa, interiornya klasik, tersedia kursi sofa yang empuk dan kursi kayu yang terlihat cantik dengan cat putihnya  Homey banget deh duduk lama-lama disini. Di dindingnya terpasang wallpaper dengan nuansa traveling.
Di sini juga disediakan properti mainan waktu masih anak-anak dulu seperti dakon (saya nyebutnya gitu) dan monopoli. Mungkin buat ngisi waktu sambil nongkrong lama kali ya. Terus ada wifinya pula, lumayan kenceng buat browsing. Betah deh lama-lama disini.

Permainan yang disediakan buat pengunjung
Cafe Buckingham Malang
Interiornya klasik
Wallpaper tema travelingnya keren

Terus menunya?
Semua menu disini serba es krim, yang membedakan yaitu pilihan topingnya yang bisa kita pilih sendiri sesuai selera.  Saya cukup kalap memilih menu disini, akhirnya saya memilih menu Ice Cream Bun with Creakers, Choco Light dan Ice Cream Jar Chocolate Banana Choco Raisin (yang ini maruk banget, semua toping dipilih)
Untuk harganya? Wahhh jangan khawatir sama dompet kamu. Untuk Ice Cream Bun with Creakers saya cukup mengeluarkan kocek 16K. Untuk menu Choco Light cukup mengeluarkan kocek 12,5K dan menu yang paling banyak topingnya hanya membayar 12K. Murah banget kan. Pantesan pas jam pulang sekolah, banyak yang kesini.


Ini daftar menunya
Choco Light

Ice Cream Bun with Creakers
Ice Cream Jar Chocolate Banana Choco Raisin

Bagaimana dengan lokasinya?
Di daerah Suhat Malang banyak banget bertebaran tempat tongkrongan, termasuk Buckhingham Cafe yang tepatnya berada di Ruko Soekarno Hatta, belakang De’amour Boutique. Kalau susah nemuinnya, tanya orang-orang disekitar Soekarno Hatta, atau gampangnya telepon ke si empunya cafe aja. Gara-gara saya telepon ke nomer hape si empunya, wahh sepulang dari sana saya di sms-in kesan-kesannya selama nongkrong disana. Baik banget ya. 
Kekurangannya nongkrong disini menurut saya nggak ada kurang-kurangnya kok, malah asik-asik aja bawaannya. 
So, kamu baru pertama kali ke Malang dan bingung mau nongkrong dimana? Yuk, ke sini aja.

Buckingham Cafe & Resto
(belakang de’Amour Boutique)
Jl. Terusan Candi Mendut G7
Malang
Jam buka : 11.00
Twitter @buckinghammlg
© 2014 Ordinary Girls Blog. All rights reserved.