Featured Post

Ad Block

Me Time

Terinspirasi dari tulisan Mbak Jane soal kegiatan favoritnya selama me time, ehh jadi keinget me time diri sendiri. Ternyata listku cukup panjang juga di kolom komennya Mbak Jane 😁.

Apa itu Me Time?
Menurut bahasa sederhana saya, me time adalah waktu atau reward untuk memanjakan diri sendiri. Hasil dari browsing pun juga nggak berbeda jauh maknanya, yaitu waktu untuk diri sendiri tanpa kehadiran orang lain, sehingga kita bisa beraktivitas seharian. Dengan me time juga, kita bisa istirahat sejenak dari kegiatan fisik maupun pikiran. 

Menurut pendapat Treadway, keterkaitan dan hubungan yang positif dengan diri sendiri, orang lain dan juga lingkungan bisa menjadi "obat" bagi stres dan kecemasan yang sering dialami manusia. Jadi, sesibuk apapun seseorang, usahakan tetap bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri.


aktivitas yang bisa dilakukan selama me time

Kadang ada tuh yang sudah sumpek kerja berbulan-bulan sampai nggak sempat menyenangkan diri sendiri, entah mau shopping, jalan-jalan ke luar kota, atau silahturahmi dengan saudara jauh. Biasanya banyak dialami oleh pekerja kantoran, kayak saya wkwkwk.

Manfaat Me Time?
Ternyata me time menurut psikolog memiliki manfaat, seperti :
Menyegarkan pikiran dan hati
Mungkin nih selama rajin bekerja kesana-kemari, sampai nggak sempet ngurusi diri sendiri, pikiran kalut, hati ambyar, astaga jangan sampai lah ya, perlu dong sisihkan waktu sebentar buat diri sendiri. Nah, dengan me time, misalnya puas-puasin nonton Netflix seharian, lihat film atau drama yang lucu-lucu biar pikiran agak rileks dikit. Pikiran fresh hati pun senang. Dan bekerja pun jadi lebih produktif lagi kan.

Memperbaiki mood
Ada beberapa pekerjaan yang menuntut untuk tampil "sempurna" di mata orang lain, seperti frontliner. Tampak dari penampilan luarnya, mereka yang dituntut untuk selalu tersenyum manis ke konsumen, memberikan penjelasan dengan kata-kata yang lembut, siapa tahu mood-nya ternyata sedang kurang baik. Dengan memanfaatkan me time, bisa jadi besoknya mood dia kembali bagus dan happy seharian. 

Membebaskan diri dari rutinitas
Sesekali perlu untuk "absen" dari kegiatan yang itu-itu saja dan tiap hari dilakukan, rasa jenuh pasti pernah muncul kan, nah ini saatnya buat me time. Free day.


free day seharian ketika me time

Lebih menikmati hidup
Kita hidup di dunia tujuannya untuk dinikmati. Jadi, percuma juga kalau kita sudah susah payah bekerja tapi tidak bisa menikmatinya. Dengan menyisihkan waktu melakukan hal yang disukai, kita jadi punya work-life balance, seperti kegiatan menuntaskan hobi yang selama ini tertunda.

Aktivitas selama Me Time
Tiap orang versi kegiatan me-timenya bisa berbeda-beda, sebagian besar adalah dari hobi yang tertunda hehe. Nah kalau saya sendiri, palingan me time nya seperti :
Keluar sama sohib
Kalau sudah bosen berada di rumah, ehh tiba-tiba ada ajakan buat kulineran atau nongkrong di cafe. Hari sabtu kantor saya libur, pernah beberapa kali dari pagi sampai malam berada di luar rumah, entah kluyuran kemana saja, dipikir-pikir "wow sudah kayak berangkat kerja saja", 9 jam lebih di luar rumah buat happy-happy.
Nyobain menu baru atau tempat makan baru sambil hahahihi dengan temann-teman memang sangat menyenangkan. 


aktivitas selama me time

Membaca buku
Terlalu klasik nggak sih membaca buku? nggak juga deh. Saya suka beli buku, meskipun lihat kondisi dompet juga hehe, tapi seringnya nggak langsung dibaca sesaat setelah dibeli. Bisa beberapa minggu kemudian baru dibaca dan itupun nggak langsung khatam. Tapi kalau sudah niat seharian pengen menuntaskan sebuah buku, bisa juga sebenarnya. Memang budaya membaca ini kudu dibiasakan dari kecil ya hahaha

Treatment
Terkadang cewek banyak maunya, mau ini mau itu, tapi masih banyak mikirnya, sama kayak saya. Beberapa hari terakhir, saya pengen banget hair mask biar enteng. Dan baru terealisasi ketika membaca postingan mbak Jane mengenai kegiatan favoritnya selama me time.

Saya jadi mikir "ahhh harus berangkat nih nyalon, sudah tertunda berapa kali nih". Meluncurlah saya di akhir pekan ke salon dan melakukan treatment hair mask, astagaa ringan banget kepala, setelah beberapa hari sebelumnya tiap pulang kantor kok kayak berat terus. Dan kalau lagi niat banget, beli body mask dan lama-lamain di kamar mandi ketika weekend.

Window Shopping
Kalau sudah ketemu mall bisa lupa waktu. Jaman kuliah dulu, pernah dari pagi sampai malam keluar masuk mall dari Tunjungan Plaza sampai Supermall Pakuwon Indah Surabaya.
Eh pas sudah gede begini, kalau sudah kangen menghirup udara Surabaya ya tinggal meluncur saja ke Tunjungan. Entah mau makan, cuci mata, jalan kesana kemari sampai kaki pegel.

Kalau lagi pengen belanja ya belanja, meskipun harus nahan iman, kalau nggak pengen ya cukup lihat-lihat saja, gini saja sudah bikin seneng. Segampang itu ya bikin saya seneng hehe

Berselancar di dunia maya
Ini tergantung situasi juga, kalau saya melakukan aktivitas outdoor dan nggak memungkinkan membawa laptop, tentu saja nggak akan bisa internetan dengan nyaman. Kecuali ketika saya berada di rumah, bisa betah seharian  menatap layar komputer, dari mulai blogwalking ke temen-temen blogger yang seru-seru sampai editing video, meskipun banyak di hold-nya hahaha


aktivitas selama me time


Pernah nggak teman-teman menemui rekannya mungkin, yang agak kurang pede untuk pergi sendiri? di lingkungan saya banyak. Menurut temen saya nih, minimal 2 orang perginya biar ada yang bisa diajak diskusi atau ngobrol.

Masalahnya kadang ada aja kalau mengajak teman keluar dan tujuannya nggak sesuai, suka nggak asik saja jalannya, mrengut mulu. Bukannya malah bikin senang malah bete nanti jadinya.
***
Saya heran saja kalau ada teman yang kemana-mana "nggak berani" buat keluar sendiri, lahh kalau seandainya dia ditugaskan bussines trip sendiran, ya masa mau ditolak, mending kasih ke saya job nya hahaha. Toh bukannya di kota tujuan, juga ada rekan kerja yang akan ditemui. Posisi sendirian pun palingan juga ketika di bandara atau travel. 

Jangan saya saja yang meluangkan waktu untuk me time ya, teman-teman juga nih.


Moke

Ditengah perjalanan dari Kabupaten Ngada menuju Kabupaten Ruteng, bis yang saya naiki berhenti di pinggir jalan yang sebagian besar disuguhi pemandangan pepohonan kering menguning. Ternyata, si guide mengajak saya dan rombongan berhenti di salah satu warung kecil dan ingin mengenalkan minuman khas dari Pulau Flores ini. Namanya adalah moke.

moke minuman tradisional flores

Dari kamus Wikipedia, moke adalah minuman khas dari Flores yang terbuat dari tanaman siwalan (pohon lontar) dan enau. Moke juga merupakan simbol adat, persaudaraan dan pergaulan bagi masyarakat Flores itu sendiri. Sama seperti yang mbak Reyne bilang, kalau di kampung halamannya di Buton sana, minuman sejenis alkohol sudah menjadi minuman sehari-hari, warganya seperti nggak bisa terpisahkan dengan keberadaan si minuman macam arak itu.

Pembuatan Moke
Moke dibuat dengan proses penyulingan yang sederhana dari buah dan bunga pohon lontar maupun enau. Ketika saya mencoba berjalan menyusuri kebun dibagian belakang warung kecil di pinggir jalan, bapak-bapak dengan lihainya memanjat pohon lontar. Kemampuan memanjatnya membuat saya melongo, cepet banget dan tanpa alat pengaman. Wush wush tahu-tahu sudah dibagian paling tinggi dari pohon lontar. 

moke minuman tradisional flores

Bagian belakang tempat pembuatan moke, bisa lihat hewan :D

Proses pembuatan yang tergolong dengan cara tradisional ini diwariskan secara turun temurun bahkan sampai sekarang. Pengerjaannya pun bukan di pabrik-pabrik mewah tetapi di kebun warga dengan peralatan seperti periuk tanah. Itulah sebabnya, mereka yang membuat moke harus sabar dan ulet supaya mendapatkan hasil moke yang maksimal.

moke minuman tradisional flores

Untuk membuat satu botol moke, diperlukan waktu kurang lebih 5 jam karena yang membuat lama adalah menunggu tetesan demi tetesan dari alat penyulingan yang menggunakan bambu.

moke minuman tradisional flores

Konon nih, moke memiliki khasiat menyehatkan dan tidak memabukkan. Moke yang paling enak adalah moke yang bisa dibakar dan menyala diatasnya dengan cara menyuling kembali moke sebanyak 2 sampai 3 kali proses penyulingan.

Moke dengan kualitas terbaik ini hanya akan disajikan pada akhir pekan dan acara-acara adat sebagai pendamping hidangan utama.

Oya, cara membuat moke amat sederhana dan mudah bagi masyarakat Flores sendiri, yaitu buah pohon lontar diiris menggunakan pisau kecil untuk diambil airnya saja. Bagian pohon lontar atau enau yang disadap adalah bagian tangkai bunga. Aliran air nira ini ditampung dalam batang bambu. Air nira yang sudah ditampung ini, kemudian disaring dan dimasak menjadi moke.

moke minuman tradisional flores

Prosesnya pun membutuhkan dua tahap, yaitu memasak dan menyuling. Proses masak maupun menyuling ini tetap menggunakan peralatan tradisional dan dirangkai menjadi satu kesatuan yaitu tungku api, periuk tanah dan rangkaian bambu yang cukup panjang.

Nah, tungku api ini berfungsi sebagai tempat pembakaran nira, periuk tanah berfungsi sebagai wadah memasak nira dan rangkaian bambu dengan ukuran yang besar sebagai wadah pengembunan.

Rangkaian bambu ini dipasang dari mulut periuk tanah kemudian disambung dengan bambu-bambu yang berukuran kecil diarahkan menuju tempat penampungan moke. Sebelum disambung, bambu-bambu ini dilubangi agar bisa mengalirkan penguapan nira yang akan menjadi moke. Semakin panjang rangkaian bambu, maka semakin bagus kualitas mokenya. Umumnya warga Flores menggunakan potongan botol air mineral untuk menampung uap nira ini.

Moke Mudah Didapatkan
Karena moke ini adalah minuman khas dari Flores, nggak heran jika dikota-kota seperti Maumere ataupun daerah Sikka mudah sekali ditemukan. Sayangnya waktu saya di Maumere, saya masih belum tahu kalau ada moke jadi nggak bisa tahu peredarannya dan guide juga belum bercerita soal moke. Baru di daerah Aimere ini, di pinggir jalan cukup banyak juga yang menjual. Untuk harga moke per botol dengan ukuran sedang yaitu sekitar 15ibu sampai 20ribuan. 

moke minuman tradisional flores

Bagaimana rasa moke?
Sebagai pengalaman baru di tanah Flores, nggak mau ketinggalan buat icip-icip si moke ini, dannnnn rasanya adalah mirip bensin, hyaa hahaha. Entah kenapa waktu tegukan pertama kali, menurut saya pribadi seperti bau bensin. Kalau minum bensin ya nggak pernah. 
Kalau dijabarkan, moke ini agak keras di mulut saya, memang nggak ada pahit-pahitnya.

moke minuman tradisional flores

Temen se-trip saya  cerita, menurut dia si moke ini kadarnya masih "biasa" saja. Nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama nge-wine yang model jekdi.

Moke juga bisa dijadikan oleh-oleh, seperti temen saya ini, saking pengen bawa moke buat temennya biar bisa merasakan juga, dia membeli sebotol moke. Dan ujung-ujungnya waktu di hotel Labuan Bajo, mikir caranya nge-packing biar lolos di bandara, yaitu dengan melilitkan botol ini ke dalam handuk. Ehh lolos ternyata.

Moke Sebagai Ekonomi Warga
Kalau sudah ngomongin ekonomi memang agak sensitif. Mata pencaharian sebagai pembuat moke adalah sebagian besar yang dilakukan masyarakat Flores, meskipun nggak semuanya sih. Dari pekerjaan ini, si penjual bisa menghidupi keluarganya bahkan menyekolahkan anak-anaknya.

Ketika browsing soal moke ini, malah ada berita mengenai pemerintah setempat yang berencana akan menutup segala aktivitas produksi moke. Walaupun sudah terbit Perda, tetapi masyarakat juga melakukan penolakan akan keberadaan aturan ini. Semoga saja masalah kontroversial ini bisa segera menemukan jalan keluarnya.
***
Yang penting ekonomi masyarakat, tradisi serta pariwisatanya tetap bisa berjalan dengan baik. Supaya makin banyak turis lokal atau asing yang penasaran dengan keunikan masing-masing daerah.

The Power of Postcard

Biasanya kalau lagi bepergian pengen bawa sesuatu yang khas dari tempat yang dikunjungi untuk dibawa pulang. Entah itu berupa makanan atau barang benda mati, kalau makanan paling lama bertahan nggak lebih dari seminggu, soalnya cepat habis. Beda lagi dengan barang yang tahannya bisa awet. Barang yang paling sering dibawa pulang sebagai merchandise adalah gantungan kunci, magnet kulkas, miniatur landmark negara yang bersangkutan, sampai pajangan keramik.

Kalau bepergian ke kota dalam negeri, biasanya saya membeli kaos, aksesoris, tas dari kain dan penganan. Hampir sama juga jika saya perginya ke luar negeri, biasanya yang dibeli kaos, gantungan kunci, tas-tas belanja unik nan menggemaskan, pokoknya yang berfungsi, kira-kira seperti itu. Tapi ada juga yang agak nggak berfungsi seperti kartupos. Seringnya barang-barang ini saya beli untuk keluarga sendiri, maklum tight budget juga.

pecinta kartu pos

Nggak nyangka juga, sekian lamanya ternyata saya masih betah menyimpan beberapa lembar kartupos dan terabaikan begitu saja.

Kenapa saya suka kartupos? Saya sendiri juga nggak tau kenapa, dulu waktu masih SD sudah sering kirim kuis majalah lewat kartupos, kemudian sering mengirim surat ke artis cilik dan dibalas balik dengan kiriman kartupos bergambar sang artis. Betapa saya dulu gemar sekali korespondensi. Mungkin ini awal mulanya beli kartupos hahaha.

Koleksi kartupos saya nggak banyak, karena nggak selalu tiap daerah yang dikunjungi sempat untuk mampir kantor pos atau malah di tempat oleh-oleh nggak menjual si kartupos. Yang masih tersimpan dengan baik sampai sekarang adalah kartupos bergambar lokasi wisata dari Pulau Lombok, Melaka-Malaysia, Saigon, Universal Studio Singapore, Penang dan Flores.

Beberapa teman blogger ada yang dengan baik hati mengirimkan kartupos dari negara yang dikunjungi ke alamat saya, sayangnya banyak gagalnya, gagal dalam artian si kartupos nggak sampai ke alamat rumah, entahlah nyasar kemana.

The Power of Postcard
Saya nggak meyakini kalau sebuah kartupos bisa mempunyai “kekuatan” untuk membawa kita ke daerah tersebut. Tapi sekarang saya berubah pikiran, kartupos ini bisa dikatakan sebagai semacam cambukan atau pengingat jika seseorang mempunyai angan-angan pengen kesana.

Dulu kala, waktu pertama kali ke Pulau Lombok dengan waktu yang nggak lama, pastinya ada banyak destinasi yang nggak keburu buat dikunjungi, salah banyaknya ada Pantai Mawun. Pertama kali melihat gambar Pantai Mawun, saya kok suka ya, pasir pantainya putih, lautnya berwarna biru tosca cakep, meskipun hampir semua pantai disana juga seperti ini. Dan waktu ke toko oleh-oleh menemukan kartupos yang dijual dan salah satunya bergambar Pantai Mawun ini, langsung auto beli buat kenang-kenangan.

Saya meletakkan kartupos bergambar Pantai Mawun ini dimeja kantor, berharapnya sih suatu saat bisa balik lagi ke Lombok dan kalau sempat mampir ke Pantai Mawun ini.

Kurang lebih 5 tahun berselang dari kunjungan saya pertama kali ke Pulau Lombok, saya balik lagi ke pulau dengan julukan pulau seribu masjid ini. Kali ini karena edisi birthday trip #yaelahhh, dan nggak mau tanggung-tanggung juga, sekali jalan di daerah Kuta Lombok, ya mampir sekalian ke Pantai Mawun.

Dannn finally bisa menginjakkan kaki di pantai yang gambarnya cuman dipajang dimeja kantor selama ini, pantainya benar-benar berpasir putih halus, warna lautnya biru cantik, bibir pantainya beneran melingkar persis yang ada di kartupos. Kegirangan nih anak kota hahaha

Dari sekian sedikitnya simpanan kartupos, kartupos yang saya beli di Desa Denge adalah yang menjadi favorit pertama. Desa Denge adalah desa terakhir sebelum menuju ke Kampung Adat Waerebo, tepatnya saya beli di rumah Bapak Blasius Monta, saya rasa semua traveler yang pernah ke Waerebo pasti nggak asing dengan pemilik penginapan ini.

Karena terkesima dengan cerita Pak Blasius soal “care-nya” warga asing terhadap kearifan lokal dan budaya di Waerebo sampai history pembangunannya yang sungguh luar biasa, membuat saya membeli beberapa lembar kartupos itu untuk dibawa pulang. Berharapnya lain waktu bisa balik lagi ke sana.

Postcrossing
Waktu membaca postingan mas Isna (djangki) soal kartupos, ternyata mas Isna suka kartupos juga dan malah sepertinya gabung di komunitas postcrossing. Slogan dari kegiatan ini adalah “send a postcard and receive a postcard back from a random person somewhere in the world”. Secara nggak langsung, dari kegiatan berkartupos ria ini, bisa menambah kenalan teman baru juga.

Dan sepertinya sekarang makin jarang orang yang saling kirim kartupos di negeri sendiri, wajah perangko saja yang terbaru saya nggak ngerti. Semua sudah diganti dengan kiriman serba email dan kalaupun surat menyurat atau paket memilih lewat expedisi seperti J**, J&*, dan kawan-kawannya. Saya pergi ke kantor pos nggak lain hanya untuk membeli materai :D.

Kalau melewati jalan semasa saya sekolah dulu, jadi teringat pulang sekolah memasukkan kartu pos atau surat ke sahabat pena ke dalam kotak pos berwarna orange terang itu. Sekarang? Kotak posnya sudah nggak ada. Duh kasian nasib kotak pos, kejayaanmu dulu kini sudah sirna.

Ada yang punya kenangan atau cerita dengan kartupos jugakah?





Lebih Akurat Mana, Aplikasi Maps atau Hati?


Memang nggak bisa dipungkiri lagi, semakin kesini inovasi teknologi di kategori handphone (HP) sudah memberikan perkembangan yang berbeda. Dari yang awalnya pegang HP yang hanya bisa bikin nada dering lagu dengan rumus-rumus huruf dari majalah music Hot Chord sampai HP yang spesial buat main games saja, sudah bisa dinikmati para kawula muda saat itu, tinggal sesuaikan saja dengan kondisi keuangannya.

Teknologi baru membawa perubahan lagi ke sistem Android. Saya waktu itu nggak paham apa itu Android dan secanggih apa, sampai adik kos menunjukkan kecanggihannya pun, saya masih nggak ngeh. Lagi happeningnya si Android, eh muncul si Blackberry. Makin nggak ngerti juga canggihnya dimana, karena saya belum punya hahaha.

Dulu waktu masih jamannya pake Blackberry yang notabene hape tercanggih (saat itu), rasanya semua keinginan manusia bisa diselesaikan hanya dengan HP saja. Sebuah HP bisa mengakomodir kebutuhan manusia, apa nggak luar biasa ini namanya.

Sampai suatu saat saya mempunyai Blackberry dan Android sendiri, jadi bisa benar-benar merasakan kecanggihannya. Transaksi perbankan tinggal ketik ketik saja, mau nyari apa tinggal search saja, apalagi cuman butuh peta.



Saya memanfaatkan si Blackberry dan Android untuk mempermudah pekerjaan ataupun berselancar di dunia maya. Apalagi aplikasi navigasi yang disediakan di playstore cukup membantu saya yang cukup sering bepergian. Lalu sampai sejauh mana kebutuhan saya dicukupi oleh sebuah aplikasi ini?
* * *
Aplikasi Maps Mempermudah Pejalan? Tergantung Sikon
Waktu itu saya hanya berdua dengan travelmate menghabiskan akhir pekan di Banyuwangi. Rute Jember – Banyuwangi Kota dengan mulus saya lalui, karena area Banyuwangi masih wilayah kerja dan cukup sering saya kunjungi, sudah sedikit hapal dengan jalannya. 

Muter-muter explore daerah kota nggak ada masalah besar buat saya. Hari terakhir di Banyuwangi, kita nggak ada rencana akan pergi kemana, jadi random saja berbekal info dari teman saya ini dan googling.

Tahun 2015 tersebutlah nama Hutan Djawatan, saat itu masih sedikit sekali info apa itu hutan Djawatan. Menurut teman saya, di hutan ini banyak pohon pohon gede yang bagus buat dijadikan background foto. Berbekal Google Maps, saya mengarahkan kendaraan sesuai instruksi mbak-mbak di aplikasi tersebut. Done.

Hutan Djawatan masih polos

Saya berhasil menemukan lokasi Hutan Djawatan dengan baik. Lahh gampang, nggak jauh dari jalan raya utama. Say thanks to Google Maps.

Karena masih setengah hari, perjalanan dilanjutkan menuju daerah Jajag Banyuwangi. Maksud hati adalah ke Pulau Merah atau Pantai Pancer. Baiklah saya menuruti teman saya ini.

Flashback di tahun 2012, kantor saya mengadakan event di daerah kecamatan Pesanggaran, daerah ini jauhhh banget dari Jajag. Break event, saya dan pimpinan kantor plus rekan dari Banyuwangi diajaklah ke Pulau Merah yang saat itu masih sepi banget. Dari blusukan ini, sedikit banyak saya mengetahui medan jalan dan kondisinya.

Nah, saat saya ke Banyuwangi lagi inilah, saya kembali melewati beberapa ruas jalan yang sama dengan kunjungan saya saat event itu. Dan, entah sampai persimpangan jalan yang mana, kita berdua membuka Google Maps dan mempercayakan rute perjalanan pada suara si mbak Maps.

Sekian kilometer, maps mengarahkan saya ke jalanan tanah dan malah belok ke halaman rumah orang dan akhirnya bisa kembali ke jalanan aspal. Berjalan lagi sekian kilometer, mobil yang saya setiri melewati jalanan berbatu, semakin jauh dari jalanan aspal dan melewati ladang warga. Dari sini sebenarnya saya sudah aneh, tapi malah tancap gas terus dan terus. Jalanan desa berbatu ini juga semakin nggak ada orang hahaha.

Masih sempet moto, walaupun yakin ini bukan jalan yang benar
Sampai pada bagian melewati jembatan yang awalnya saya ragu bisa muat dengan mobil saya ini, dannnn untungnya muat, passs. Si mbak Google Maps, kembali mengarahkan “belok kiri ke jalan raya”, ya elahhh ternyata itu tadi tembusan jalanan utama, tapi kenapa saya bisa lewat jalan pelosok begini. Pffhhtt. Makin nggak jelas si Google Maps ini mah.

Selanjutnya, untuk menuju Pantai Pancer, hanya mencoba bertanya ke warga sekitar saja alias GPS alami (Gunakan Penduduk Setempat), karena mereka lebih jago dari si Google Maps ini.

Saat perjalanan pulang, saya nggak memilih menggunakan Google Maps tapi lebih menggunakan hati atau perasaan saya saja, karena memang sebelumnya samar-samar seperti pernah melewati daerah Kecamatan Gambiran dan sekitarnya ini. Dan berhasil sampai di kota kecamatan.

Beberapa teman berpendapat mengenai penggunaan aplikasi maps antara Google Maps maupun Waze, karena dua aplikasi ini yang paling umum dipakai. Teman yang satu bilang, enakan pakai Waze karena detail, ehh tapi ada nggak enaknya juga, di jalanan Surabaya kalau mengandalkan Waze bisa dilewatkan di jalanan sempit, nahh yang orang Surabaya pasti tahu gimana padatnya jalanan disana, apalagi kalau bawa mobil, udah ribet pastinya kalau nyasar melulu.

Ada juga yang cukup pakai Google Maps sudah bisa membantu. Saya setuju semua aplikasi ini mempunyai fansnya sendiri-sendiri, ada kalanya Google Maps mengarahkan saya ke tempat tujuan dengan benar dan tepat. Tepat sekali bahkan.

Tapi kalau sudah berada di daerah yang sinyal saja susah ataupun terpencil, sepertinya mending mengandalkan GPS saja alias Gunakan Penduduk Setempat.

Pernah dengar berita, sebuah mobil bisa masuk ke dalam hutan yang mau muter balik saja susah dan jalanan bertanah, kalau nggak salah di Jawa Tengah. Ini gara-gara driver mengandalkan dan mengikuti perintah aplikasi maps tadi untuk tujuan ke tempat wisata. Sampai-sampai pihak berwajib dan warga buat mengeluarkan mobil ini dari jalanan yang sempit dan pas sebadan mobil pun susah. 

Minimnya informasi ataupun petunjuk di jalan memang bisa membuat kesasar pengendara. Kalau sudah nggak yakin, mending pergi ke kantor polisi. Kayak saya.

Iya, waktu di Lombok dan memutuskan untuk muter-muter kota dengan motor sewaan di malam hari, dari Mataram Mall hanya muter muter saja dan nggak menemukan jalur balik ke Hotel di daerah Senggigi. Pilihannya adalah saya pergi ke kantor polisi dan dengan baiknya di antar bapak polisi sampai titik tertentu menuju daerah Senggigi.

Intinya jangan malu bertanya biar nggak kesasar kalau si aplikasi Maps belum menunjukkan jalan yang benar.

Dan jangan membuat keterbatasan membaca peta sebagai penghalang pergi kemana-mana, saya sendiri juga nggak jago-jago banget baca peta, disuruh belok ya belok, entah itu belokan yang mana.

Tiap orang punya favoritnya masing-masing, kalian pernah disasarin si mbak mbak Maps ini juga kah?





Susahnya Menemukan Makanan Halal di Daerah Minoritas


Bagi pekerja kantoran yang menginginkan waktu liburan di sela-sela hari kerja biasanya akan mengambil cuti, akan tetapi hal ini tergantung dari aturan tiap perusahaan yang bisa berbeda satu sama lain. Ada perusahaan yang bisa dengan mudahnya memberikan ijin cuti sampai seminggu, bahkan jika jatah cuti tahunan nggak diambil akan diganti dengan uang.

Di tempat saya bekerja, biasanya maksimal cuti yang diberikan adalah 2 hari. Kalau saya sendiri lebih sering mengajukan 3 hari dan pengajuan 3 hari ini akan di acc jika alasan cuti bisa diterima. Itulah sebabnya saya harus pintar memilih tanggal jika berencana cuti, seperti memanfaatkan tanggal merah di tengah-tengah minggu atau extend ijin jika waktunya masih kurang alias nggak memungkinkan untuk balik ke kota asal.


Seringnya destinasi liburan saya ke daerah yang terbilang jauh, jadi libur hari raya yang paling sering saya manfaatkan untuk libur panjang. Ketika memutuskan untuk memilih liburan di waktu libur hari raya biasanya saya memilih daerah yang minoritas penganut muslimnya. Karena saat itu, saya berpikir kalau hari raya, ada beberapa tempat wisata yang akan tutup mengingat kebanyakan pekerjanya biasanya muslim.

Selamat Datang di Flores
Cerita soal bagaimana kendala saya ketika liburan di daerah minoritas muslim dimulai ketika melakukan land trip di Flores. Trip Flores saya lakukan ketika libur lebaran, landing pertama adalah di kota Maumere. Karena Maumere terkenal dekat dengan laut, nggak heran jika banyak warung yang menyediakan menu ikan bakar. Untuk daerah Maumere, Ende ataupun Riung saya nggak menemukan kendala soal makanan, paling gampang dipesan biasanya nasi goreng atau mie.

Di daerah Bajawa, saat mencari makan malam di resto dekat hotel, sebagian besar menu yang dijual adalah mengandung babi, ada beberapa menu chinesee food. Saya pun memesan chinesse food.

Saat trip seperti ini, mau nggak mau saya hilangkan “keraguan” akan kebersihan dari alat-alat masaknya, sebagai konsumen males repot juga harus sidak ke dapur untuk ngecek alatnya, malah nantinya bisa saja saya yang diusir hahaha.

Yang saya yakini, bisa saja wajan ataupun perkakas lain yang dipakai masih dari satu wadah, baik untuk memasak nasi goreng, mie ataupun menu siobak.

Pindah ke kota Ruteng dan Labuan Bajo, tim saya nggak menemukan masalah untuk mencari tempat makan “umum”.

Hallo Bali
Di Pulau Bali banyak banget pilihan tempat makan, tapi bagaimana jika menyeberang ke Nusa Lembongan?

Sebelum menginjakkan kaki di Nusa Lembongan, saya sudah browsing dulu tentang warung yang berada di pulau kecil ini. Satu warung yang menjadi pegangan saya ketika di Lembongan adalah warung Bu Edy.

Warunng makan di Nusa Lembongan
Kenyataannya? Sejak hari pertama kedatangan, saya susah menemukan dimana letak warung Bu Edy dan baru saya lihat secara nggak sengaja di hari berikutnya ketika motoran karena mata saya lagi jelalatan di sepanjang jalan. Karena nggak mau egois sendiri, ya abaikan saja warung Bu Edy ini. Kalau malas ribet, memang pergi makan di resto beach club atau resto sea food, kalau sesekali oke lah. Tapi untuk tiap hari kayaknya kok terlalu pricey juga.

Nggak sengaja di dekat hotel saya menginap, ketemu warung, minimal bisa pesan mie Indomie favorit. Di warung sederhana dengan lantai tanah ini, terdapat etalase mini yang memajang beberapa masakan termasuk tumis sayuran ataupun masakan daging babi. Teman trip saya yang non muslim semua, sangat happy bisa ketemu dengan makanan favoritnya disini. Lah saya?


Bisa ditebak kalau saya sesekali pesan mie dan seringnya memilih nasi campur. Dan yang saya lihat alat masak maupun peralatan makan semuanya jadi satu, mau itu masak daging ayam, sapi ataupun babi. Apa mau dikata, yaudah pesan saja, jadi selama beberapa hari di Nusa Lembongan, warung ini menjadi jujugan tiap hari.

Hai Vietnam
Waktu ke Saigon, saya sempat mengikuti tur lokal untuk destinasi yang jauh keluar kota. Seperti biasa, ikutan trip umum seperti ini, ada mampir ke resto untuk makan siang. 

Siang itu, bis tur yang saya naiki berhenti di sebuah rumah makan sederhana di pinggiran Saigon, menu yang disajikan bahasanya sulit saya mengerti, ngomong sama pegawainya nggak bisa bahasa Inggris. Yaudah karena nggak ngerti mana menu yang ada daging ayam, sapi atau babi, ya saya asal pilih saja. Yang penting makan dan kenyang.


***
Sensasi susah senang mencari menu makan yang sesuai pilihan di tempat asing memang bisa menjadi kenangan tersendiri buat traveler. 

Apa kalian pernah menemukan hal yang sama seperti saya?





Menikmati Sajian Alam di Pantai Mustika, Pancer Banyuwangi


Destinasi kali ini sebenarnya diluar rencana, dari Banyuwangi kendaraan saya arahkan menuju area Pulau Merah, tapi karena antara blank dengan jalan dan sudah pernah ke Pulau Merah sebelumnya, saya nggak membelokkan kendaraan ke jalanan masuk Pulau Merah, tetapi malah ke Pantai Pancer.

Di sepanjang perjalanan akan disuguhi lahan kebun warga dan beberapa rumah yang terletak saling berjauhan satu sama lain. Dan terlihat hamparan laut biru dari jalanan ini, meskipun sesekali terhalang pohon dan kebun milik warga.

Menikmati alam di pantai mustika banyuwangi


Selama ini saya mengetahui nama pantai yang masih tetanggaan dengan Pulau Merah ini dengan sebutan Pantai Pancer. Setelah saya datang langsung ke pantai ini, ternyata ada papan bambu sebagai sign board dengan nama Pantai Mustika.

Selamat Datang di Pantai Mustika
Pantai Mustika terletak di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Keunikan yang dimiliki pantai ini yaitu hamparan golden sands atau pasir emas yang luas, selain itu bibir pantainya berbentuk seperti setengah lingkaran.

destinasi pantai banyuwangi yaitu pantai mustika

Asal muasal nama Mustika berawal dari kedatangan Nyi Roro Kidul ke tempat ini dan ketika akan pulang, mustika yang dikenakannya tertinggal. Kemudian oleh orang yang menemukan mustika tersebut, meyakini bahwa mustika adalah milik Nyi Roro Kidul, dia pun membuang mustika tersebut ke laut dengan harapan bisa kembali ke pemiliknya. Namanya saja cerita rakyat, boleh percaya atau tidak percaya.

perahu nelayan di pantai mustika

Aktivitas pengunjung yang bisa dilakukan di Pantai Mustika nggak jauh-jauh dari menikmati angin semilir di bawah pohon dekat area parkir ataupun menikmati deburan ombak, bermain pasir dan menikmati kelapa muda. Ombak di sekitar pantai nggak terlalu besar, jadi aman untuk berenang dipinggirannya atau sekedar bermain air.

pantai mustika banyuwangi


Siang yang panas terik itu, saya berjalan ke jalan setapak di sebelah kanan, dimana banyak bersandar perahu-perahu nelayan. Nggak jauh dari lokasi perahu-perahu parkir tadi, terdapat gundukan bebatuan memanjang menuju tengah laut, saya dan travelmate mencoba melintasinya dan penasaran viewnya dari atas bebatuan ini.

pantai mustika banyuwangi

Teman saya sudah berjalan jauh di depan, saya sendiri hanya sanggup melintasi sekian meter saja berjalan diatas batu-batuan ini dan memang view dari atas batu-batu ini jelas semua, saya bisa melihat sekeliling Pantai Mustika dengan leluasa.

Bibir pantai yang berbentuk melingkar seperti setengah lingkaran terlihat dengan jelas, view gunung nun jauh disana yang saya sendiri nggak tahu itu gunung apa juga tampak jelas, karena cuaca yang sangat cerah.

Oya, di tengah laut dari Pantai Mustika ini terdapat pulau lagi, dengan nama Pulau Mustaka dan luasnya sekitar 3 Hektar. Pulau Mustaka ini hanya ditinggali oleh fauna saja seperti kera. Untuk menginjakkan kaki di Pulau Mustaka, pengunjung bisa menyewa perahu nelayan setempat. Range harganya saya kurang tahu ya, karena waktu itu nggak berminat untuk menyeberang laut hehehe.

pantai mustika banyuwangi

Menurut warga, meskipun Pulau Mustaka tidak berpenghuni, tetapi disana terdapat peninggalan Jepang seperti benteng lengkap dengan meriamnya dibagian puncak dan tentu saja pulau ini mistis.

Update terbaru nih, Pemkab Banyuwangi juga menyelenggarakan Festival Pantai Mustika dengan tujuan untuk mempromosikan pantai ini. Pastinya, disetiap penyelenggaraan festival di Banyuwangi selalu disuguhkan atraksi seni dan budaya. Primadona dari festival ini tentu saja hidangan lobster yang disajikan warga sekitar. Saya belum sempat mencicipi masakan lobster waktu sana, mungkin lain kali akan saya coba.

pantai mustika banyuwangi

Nah, karena Pantai Mustika ini juga menjadi sandaran perahu nelayan setempat, jangan heran ketika melintasi rumah warga akan tercium bau-bau seperti di pasar ikan.

Apa ada diantara kalian yang sudah pernah ke Pantai Mustika, Pancer ini?

latest 'gram from @ainun_isnaeni