Ordinary Girls Blog

Selasa, 14 Oktober 2014

Menikmati Sajian Lumpia ala Racel Risol Malang

Ngomongin kuliner Malang nggak ada habisnya termasuk dengan segala inovasinya. Lumpia! Yap, makanan ringan yang sangat merakyat ini hadir dengan inovasi baru. Kalau selama ini, lumpia yang saya tahu isinya irisan sayur-sayuran dan saya pun juga nggak begitu doyan.
Tapi, kalau ngerasain lumpia yang ada di Malang, tepatnya di Racel Risol, bakalan ketagihan deh. 

Dimana sih tempatnya?
Tempat tongkrongan yang selalu ramai ini, terletak di daerah pemukiman, agak masuk gitu lokasinya, tapi gampang kok nyarinya, apalagi nggak jauh dari tempat pujaseranya Pulosari Malang yang terkenal itu. Tempat nongkrong dengan 2 lantai ini menghadirkan suasana ala rumahan yang nyaman buat nongkrong lama hehe

Terus menunya?
Cukup bervariasi kok. Saya sih hanya pesan Meat Lova dengan harga hanya 6K dan Frape-Frape seharga 13K. Murah kan.

Ketika memotong lumpianya, lelehan mayonaise-nya keluar perlahan dan yummy banget. Tampilan penyajiannya juga nggak biasa lho, lumpia disajikan di atas talenan dengan lapisan seperti kertas kue dan disajikan hangat-hangat dan ditaburi parutan keju.
Frape-Frape
Meat Lova
Menu
Untuk pilihan minumnya, nggak salah pilih Frape-Frape yang ditambah dengan remahan oreo. Sangat menyegarkan tenggorokan.
Jadi, kalau datang ke Malang, jadwalkan untuk mampir ke Racel Risol juga ya.


RACEL RISOL
Jl. Pandan 21, Pulosari
Malang
Twitter @RacelRisol

Rabu, 08 Oktober 2014

Nongkrong Asik di Buckingham Cafe Malang

Bingung mau nongkrong dimana kalau ke Malang?
Berbekal info dari twitter @infokostmalang yang saya follow, saya menemukan akun twitter @buckinghammlg. Waduhh dari promonya aja, foto-foto menunya bikin ngiler. Nah, pas banget saya ada agenda untuk berkunjung singkat di kota yang sempat saya tinggali selama 4 tahunan ini. Berbekal alamat yang saya dapat dari profile twitternya, saya pun naik ojek kesana hehehe. Sampai dibelain telepon ke nomer yang tertera di profilenya. Niat banget deh.

Gimana sih cafenya?
Ketika saya datang, cafe masih tampak sepi, ”asikk jadi berasa di cafe sendiri”, pikir saya hehe. Pertama masuk ke cafe ini, seperti berada di Eropa, interiornya klasik, tersedia kursi sofa yang empuk dan kursi kayu yang terlihat cantik dengan cat putihnya  Homey banget deh duduk lama-lama disini. Di dindingnya terpasang wallpaper dengan nuansa traveling.
Di sini juga disediakan properti mainan waktu masih anak-anak dulu seperti dakon (saya nyebutnya gitu) dan monopoli. Mungkin buat ngisi waktu sambil nongkrong lama kali ya. Terus ada wifinya pula, lumayan kenceng buat browsing. Betah deh lama-lama disini.

Permainan yang disediakan buat pengunjung

Terus menunya?
Semua menu disini serba es krim, yang membedakan yaitu pilihan topingnya yang bisa kita pilih sendiri sesuai selera.  Saya cukup kalap memilih menu disini, akhirnya saya memilih menu Ice Cream Bun with Creakers, Choco Light dan Ice Cream Jar Chocolate Banana Choco Raisin (yang ini maruk banget, semua toping dipilih)
Untuk harganya? Wahhh jangan khawatir sama dompet kamu. Untuk Ice Cream Bun with Creakers saya cukup mengeluarkan kocek 16K. Untuk menu Choco Light cukup mengeluarkan kocek 12,5K dan menu yang paling banyak topingnya hanya membayar 12K. Murah banget kan. Pantesan pas jam pulang sekolah, banyak yang kesini.


Ini daftar menunya
Choco Light

Ice Cream Bun with Creakers
Ice Cream Jar Chocolate Banana Choco Raisin

Bagaimana dengan lokasinya?
Di daerah Suhat Malang banyak banget bertebaran tempat tongkrongan, termasuk Buckhingham Cafe yang tepatnya berada di Ruko Soekarno Hatta, belakang De’amour Boutique. Kalau susah nemuinnya, tanya orang-orang disekitar Soekarno Hatta, atau gampangnya telepon ke si empunya cafe aja. Gara-gara saya telepon ke nomer hape si empunya, wahh sepulang dari sana saya di sms-in kesan-kesannya selama nongkrong disana. Baik banget ya. 
Kekurangannya nongkrong disini menurut saya nggak ada kurang-kurangnya kok, malah asik-asik aja bawaannya. 
So, kamu baru pertama kali ke Malang dan bingung mau nongkrong dimana? Yuk, ke sini aja.

Buckingham Cafe & Resto
(belakang de’Amour Boutique)
Jl. Terusan Candi Mendut G7
Malang
Jam buka : 11.00
Twitter @buckinghammlg

Senin, 06 Oktober 2014

Menikmati Surabaya dengan Bis Surabaya Shopping and Culinary Track

Punya waktu sebentar di Surabaya dan pengen keliling kota? Surabaya Tourism Information Center (STIC) punya solusinya nih. Dengan bis Surabaya Shopping and Culinary Track (SSCT), saya bisa menjelajahi tempat-tempat bersejarah di Surabaya dalam waktu 5 jam.

Rutenya kemana aja?
Start city touring ini dari Kantor Surabaya Tourism Center di Jalan Gubernur Suryo atau biasa disebut Balai Pemuda. Rute yang dilalui oleh bis ini yaitu :
Balai Pemuda – Balai Kota – Taman Ekspresi – Tugu Pahlawan – Museum Kesehatan – Museum Bank Indonesia – Jembatan Merah Plaza – Balai Pemuda

Dua hari sebelumnya, saya sudah menelepon kantor STIC untuk booking tempat, bersiap kalau kemungkinan tempat sudah penuh ketika hari Minggu tiba.
Jam 9 pagi tepat saya sudah berada di kantor STIC dan langsung menuju ke loket pembelian tiket. Untuk harga tiketnya sendiri hanya sebesar Rp. 7.500. Murah banget kan untuk perjalanan wisata dengan bis AC yang nyaman.
Banner SSCT

Bis-nya nih
Jam 9.30 bis perlahan meninggalkan halaman Balai Pemuda. Guide bis SSCT ini merupakan finalis Cak Surabaya, namanya Cak Dul. Cak Dul mulai memperkenalkan temannya, seperti asisten Guide, sayang saya lupa namanya dan driver-nya Cak Supri. Dengan suara medok khas Suroboyoan, Cak Dul menjelaskan bangunan-bangunan yang dilewati disepanjang rute, kocak banget njelasinnya. Jadi nggak bosan di perjalanan.
Murah meriah dan hati senang
Cak Dul menjelaskan sejarah bangunan-bangunan tua di Surabaya
 Rute pertama, bis langsung menuju Balai Kota, karena bertepatan dengan hari Minggu, kantor Balai Kota tampak sepi dari pekerjanya #yaiyalah. Cak Dul langsung mengajak peserta tur menuju lobi dan mulai menjelaskan foto tokoh-tokoh yang terpampang di dinding.
Cak Dul menjelaskan sejarah Kota Surabaya
Selanjutnya, peserta diajak ke bagian belakang Gedung, tepatnya seperti ruang bawah tanah. Disini terdapat dua buah lorong, lorong sebelah kiri merupakan tembusan ke Gereja Maranata, sedang sebelah kanan tembus ke rumah dinas Walikota Surabaya.
Pintu masuk Bunker

Keadaan di dalam Bunker
Lorong yang menghubungkan ke Rumah Gubernur Surabaya
Puas menikmati ruang bawah tanah yang cukup panas, saya kembali menuju lobi kantor Balai Kota. Disini selain meja resepsionis, juga terdapat pameran hasil kerajinan pekerja seni arek Suroboyo, seperti kain sampai pajangan meja.
Sudut ruangan yang menjual aneka kerajinan
Bis pun meluncur ke destinasi berikutnya, yaitu rute kedua di Taman Ekspresi. Di Surabaya terdapat banyak taman kota. Taman ini terletak di pinggir Kali Mas. Tamannya adem, asri, bersih pula dan terdapat perpustakaan yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk sekedar membaca. Di taman ini terdapat pajangan hasil kreasi anak muda Surabaya dengan bahan dasar barang-barang bekas yang disulap menjadi hiasan taman yang cantik. Terbukti ya, kalau anak-anak muda Surabaya inovatif semua.
Taman Ekspresi



Kreasi anak muda Suroboyo
Yup, waktu terus berjalan dan bis kembali melanjutkan perjalanan ke Tugu Pahlawan. Meskipun saya keturunan orang Surabaya, yang notabene orang tua asli wong Suroboyo, baru kali ini saya menginjakkan kaki di Tugu Pahlawan. Ndeso banget deh rasanya.
Tugu Pahlawan, kebanggaan Surabaya

Saya dan rombongan diajak Cak Dul berkeliling di Area Tugu Pahlawan. Patung replika pahlawan-pahlawan kebanggaan arek Suroboyo seperti Bung Tomo, Gubernur R. Soerjo dan Doel Arnowo berdiri tegak di bawah rindangnya pepohonan taman.




Selanjutnya, saya diajak menuju Museum 10 November, untuk masuk ke dalam Museum, pengunjung dikenakan tarif Rp. 5.000,-, diluar harga tiket city touring. Kalau nggak mau masuk juga nggak masalah sih. Berhubung saya nggak pernah masuk, tentunya dengan antusias saya mengeluarkan kocek cuma Rp. 5.000,- aja. Murah meriah euy.

Di bagian lobi, saya diajak Cak Dul untuk mendengarkan pidato perjuangan Bung Tomo, hanya dengan memencet tombol yang disediakan, pengunjung bebas mau mendengarkan pidato Bung Tomo sepuas hati. Naik ke lantai 2, terdapat ruang diorama. Beberapa tempat bersejarah yang menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah dibuatkan dioramanya disini, lengkap dengan rekaman pidatonya.
Bung Tomo beraksi dalam bentuk diorama
Di lantai 2, juga tedapat pajangan senjata dan peralatan perang lainnya yang digunakan oleh para pejuang.
Di museum ini terdapat bioskop mini juga, sayang waktu saya datang petugasnya sedang libur. Mungkin lain waktu harus berkunjung ke sini lagi.

Dokumentasi Kota Pahlawan dari tahun ke tahun
Puas berfoto-foto di sekitar Tugu Pahlawan, rombongan peserta city touring diajak untuk menuju destinasi berikutnya, yaitu Museum Kesehatan dan Museum Bank Indonesia. Karena bertepatan dengan liburan hari raya Idul Fitri, kedua museum ini libur, pffttt.
Sebagai gantinya, Cak Dul mengajak saya ke Museum House Of Sampoerna (HOS). Sebelumnya saya sudah pernah kesini, karena sepupu saya belum pernah datang ke HOS, wahh dia-nya sumringah banget, dan saya jadi ikutan antusias.
Salah satu sudut ruang pas masuk pertama kali
Pendiri perusahaan Dji Sam Soe
Alat Marching Band yang kerap digunakan apabila ada event besar
Area yang digunakan oleh pegawai untuk bekerja melinting rokok
Tujuan terakhir dari city touring ini yaitu Jembatan Merah Plaza. Sebenarnya saya penasaran dengan Jembatan Merah-nya sih, yang terkenal itu.
Tiba di Jembatan Merah Plaza (JMP) sudah tengah hari, peserta diberi waktu 2 jam untuk berkeliling JMP. Lama banget. Ada yang mencari makan siang di food court, ada yang pergi berbelanja atau hanya sekedar cuci mata. Kalau saya milih makan siang dulu di warung kaki lima yang ada di sekitar JMP, lalu dilanjutkan dengan keliling JMP sebentar.

Capek duduk-duduk di depan JMP, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di dalam bis, maklum di dalam bis AC-nya lebih dingin daripada harus berpanas-panasan diluar.
Tiba waktunya untuk kembali ke Balai Pemuda, di sepanjang jalan Cak Dul masih aktif menjelaskan bangunan-bangunan dan daerah yang dianggap bersejarah di Kota Pahlawan yang dilalui oleh bis city touring ini.

Lebih asiknya lagi, Cak Dul mengajak semua peserta tour untuk bernyanyi ketika bis melewati Jalan Tunjungan. Yang ada lirik begini nih ”rek ayo rek mlaku-mlaku nang Tunjungan”, maklum saya aja nggak hafal hihihi.
Keluarga baru
Dan bis pun kembali ke Jalan Gubernur Suryo dan berakhir di Balai Pemuda. Sebelum semua peserta bubar ada sesi foto rame-rame. Pengalaman traveling singkat yang menyenangkan. Jadi, mau kemana aja nih kalau ke Surabaya?

Note :
- Rute tiap 3 bulan diganti, biar nggak melulu itu terus. Untuk updatenya mending follow twitter @TICSby aja
- City Touring bis SSCT ini hanya ada pada hari Selasa, Sabtu dan Minggu dari mulai pukul 09.00 – 14.00

Surabaya Tourism Information Center
Jl. Gubernur Suryo 15 Surabaya
P. +62 31 534-0444
Twitter. @TICSby

Senin, 01 September 2014

Naik-naik ke Penang Hill

Dari sekian banyak destinasi wisata di Penang, saya penasaran dengan Bukit Bendera atau Penang Hill, tentunya penasaran ingin naik Funicular Train-nya. Untuk menuju ke Bukit Bendera, dari Tune Hotel tempat saya menginap, saya berjalan ke Komtar. Cukup lama menunggu bis 201 jurusan Penang Hill. Daripada bengong-bengong nggak jelas, saya pun ngobrol dengan engkong-engkong penduduk asli Penang yang lagi nongkrong di bangku tunggu bis. Dari obrolan ini, si engkong memberitahukan untuk menyiapkan uang pas sebesar RM 2. Ya, menurut info yang sebelumnya saya dapat dari internet, sopir bis tidak akan memberikan uang kembalian kalau ongkos yang kita bayarkan lebih. Cukup lama saya menunggu bis 201 tiba dan setelah tiba pun masih berebutan untuk masuk bis dengan turis-turis lain. Perjalanan yang saya tempuh kurang lebih 1 jam, bis ini akan melewati Kek Lok Si Temple sebelum tiba di stasiun terakhir Penang Hill.
Nunggu bis di Komtar

Duduk anteng di dalam bis
Antrian di depan loket pembelian tiket cukup panjang, ternyata saya salah, untuk turis Non Malaysia, jalur antriannya berbeda dan waktu itu tidak terlalu banyak yang antri, meskipun disana banyak banget saya mendengar turis dengan bahasa Indonesia dimana-mana. Harga untuk tiket Funicular Train round trip (PP) sebesar RM 30 dan voilaa kereta mulai naik-naik ke puncak bukit deh. 
Funicular Train
Desak-desakan di dalam kereta
Di Bukit Bendera, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan kota Penang dari atas, sayang cuaca cukup mendung ketika saya datang. Kalau mau makan tinggal menuju ke resto yang ada disana. Berjalan ke arah belakang dari Bukit Bendera ini, terdapat Owl Museum, pedagang-pedagang kecil juga booth yang membuka seni henna atau melukis di tangan layaknya orang India.
Ada di puncak Penang Hill
Penang dari ketinggian
Pelataran Cliff Cafe
Owl Museum

Puas mengambil foto di bagian atas Penang Hill, saya kembali mengantri untuk naik Funicular Train dan kali ini saya berebut untuk mengambil train paling depan, biar lebih puas mengambil foto dan teriak-teriak bersama dengan penumpang lainnya. Suweruu!!
Kembali mengantri untuk turun

Kereta menuruni bukit yang curam banget
Di seberang loket penjualan tiket, terdapat kios souvenir, pengunjung bisa lebih puas membeli oleh-oleh disini. Puas berkeling Penang Hill, saya pun menuju gerbang luar dari Penang Hill, disana sudah menunggu bis 201 yang akan membawa saya kembali ke Komtar.
Gerbang depan Penang Hill
Sampai ketemu lagi Penang...
© 2014 Ordinary Girls Blog. All rights reserved.