Menghabiskan Waktu Seharian di Banyuwangi, Kemana Saja Ya?

11:45 PM

Sempat kepikiran pengen banget naik kereta PP dari Jember ke Banyuwangi, cuma buat foto di pinggiran gerbong ketika jalur berbelok di daerah Gunung Gumitir. Sepertinya cita-cita saya mulai ngaco ya waktu itu. Meskipun sampai sekarang keinginan foto di pinggiran gerbong masih ada hahaha

Paling tidak keinginan untuk pergi ke Kota tetangga yaitu Banyuwangi terpenuhi dengan naik kereta pulang pergi dengan adanya tanggal merah di tengah minggu, alias hari kejepit. Kali ini ajakan untuk city tour Banyuwangi datang cukup mendadak dari teman Jember Backpacker. Saya sih oke oke aja, karena kebetulan memang tidak ada agenda kemana-mana. Nggak dinyangka juga pada tanggal 17 Agustus waktu itu, pihak KAI memberikan surprise untuk penumpang kereta Pandanwangi berupa tiket gratis alias nggak dipungut biaya. Hemat 8ribu rupiah hahaha. I love it I love it….


Kemana saja saya dalam waktu seharian di Banyuwangi Kota, ini ceritanya :

Nasi Pecel Bu Tin

Trip kali ini nggak neko-neko tujuannya, karena tiba sekitar jam setengah 8 pagi, otomatis tujuan selanjutnya adalah wisata kuliner pagi-pagi. Warung nasi pecel Bu Tin sudah nggak asing bagi saya, karena area kerja saya meliputi Banyuwangi, jadi makan disini sudah biasa. Untuk antrian dan banyaknya pengunjung yang memang membuat makan di sini menjadi “luar biasa”. Bukannya kalau banyak pengunjung sampai antri-antri berarti indikasinya adalah makanannya enak enak kan.

Nasi Pecel Bu Tin Banyuwangi

Pendapa Banyuwangi Sabha Swagata

Selesai makan, saya memesan taksi online menuju Pendapa Banyuwangi yang berlokasi dekat dengan Taman Sritanjung. Dulunya tempat ini adalah rumah dinas Bupati Banyuwangi, tetapi sekarang dialihfungsikan menjadi tujuan wisata masyarakat umum agar lebih mengenal sejarah Banyuwangi dan sesekali Bupati masih menjamu tamu penting di pendapa ini.


Halaman Pendapa Sabha Swagata

Tiba di pendapa, saya dan kedua teman meminta ijin dulu di bagian security dan ternyata mereka menyambut baik kedatangan saya. Bapak petugas keamanan ini mempersilahkan saya dan teman-teman untuk mengisi buku tamu dan siapa sangka ternyata Bapak-Bapak disini juga bisa menjadi Guide, mereka banyak menjelaskan sejarah bangunan ini. 


Bapak Petugasnya baik hati menjelaskan sejarah Pendapa

Bangunan utama yang terletak dibagian depan ini berfungsi sebagai tempat pertemuan jika ada tamu kedinasan datang berkunjung ke Banyuwangi, di aula ini terdapat empat pilar tinggi kokoh dengan struktur yang masih mempertahankan bentuk keasliannya. Dibeberapa bagian lantainya pun dihias bermotif bunga sehingga menimbulkan kesan vintage, keren.


Empat pilar di bangunan utama

Bermotif vintage gini, keren

Selanjutnya saya diajak Guide ke bagian bunker belakang, sekarang gundukan tanah ini dibagian dalamnya dibuat kama-kamar seperti penginapan. Menurut Bapak Guide, kalau ada tamu Bupati terkadang mereka menginap disini, terutama untuk para ajudan, Oya, saya baru tahu nih, kalau di bunker ini terdapat satu kamar yang mana di malam tertentu tidak boleh diinapi, karena “sang penunggu” waktunya “bobok” disana. Saya dan teman teman penasaran dong seperti apa kamarnya, ehh diijinkan untuk masuk dan foto-foto. Dasar narsis, kita pun sibuk ambil gambar sana sini dan berpose. Karena pengunjung hanya rombongan saya saja, mungkin kesan “merinding” tidak begitu terasa meskipun yaa agak gimana gitu ya meskipun di siang hari. 




Bagian dalam bunker

Ini nih kamar yang ga boleh dimasukin sembarangan

Desain bangunannya memang modern

Berjalan dibagian belakang bunker, terdapat meja makan dan dapur, bersih banget dapurnya dan meja makan pun sudah tertata rapi dan apik dengan peralatan makannya. Dibuat sedemikian nyamannya demi kepentingan tamu Negara.



Nuansa dapur ini di desain minamalis dengan sentuhan modern dan tradisional dengan hadirnya meja makan dari kayu jati dan peralatan dapur yang cukup mumpuni. Bersebelahan dengan dapur terdapat ruang santai dengan beberapa kursi empuk yang nyaman. 

Selanjutnya saya beranjak ke taman belakang, disini terdapat Gazebo yang nyaman dengan interior kunonya dan diajak Bapak Guide menuju sumur tua, yang konon adalah asal mula disebutnya nama Banyuwangi. Bapak Guide juga cerita, memang kerap kalau malam di tempat ini atau dibagian belakang pendapa agak angker gitu, teman saya pun juga pernah cerita sih, ya maklum aja namanya juga bangunan lama waktu zaman kerajaan Blambangan dulu.


Sumur yang menyimpan sejarah

Ini kamar mandi di bagian belakang, ga minat buat ngeliat sih hahaha

Singkat cerita mengenai asal mula nama Banyuwangi nih, pada zaman dulu hiduplah seorang perempuan cantik bernama Sritanjung, istri dari Patih Sidopekso. Tak disangka sang Raja Prabu Sulah Hadi Kromo jatuh cinta pada Sritanjung dan memutuskan untuk memberi tugas suaminya yaitu Sidopekso untuk tugas keluar istana dengan waktu yang lama. Setelah Sidopekso pergi, Raja merayu Sritanjung, namun Sritanjung menolak karena dia lebih memilih setia pada suaminya Patih Sidopekso. Ingatt kamu juga harus setia ya sama aku #yaeeyaeeyaaa

Sampai tiba pada saatnya Patih Sidopekso pulang, Raja menyebar fitnah dengan berita bahwa Sritanjung jatuh cinta dan berani merayu Raja. Sidopekso pun terbakar amarah dan berniat untuk membunuh Sritanjung. Akan tetapi sebelum dibunuh, Sritanjung mengatakan kepada suaminya bahwa apa yang ia dengar adalah fitnah. Sritanjung bersumpah jika ia masih mencintai dan setia pada suaminya dan apabila dibunuh maka jasadnya akan mengeluarkan bau harum. Dan ketika jasad Sritanjung masuk ke dalam air, semerbak bau harum muncul dari sumber air tersebut, sehingga lokasi tersebut dikenal dengan nama Banyuwangi, yang mana Banyu berarti “air” dan Wangi adalah “harum”.


Jembatan Selfie Kalilo

Sejak kehadiran Kampung Warna Warni di Malang yang viral, banyak tempat di Indonesia memiliki ide yang sama untuk membuat kampung di wilayahnya menjadi lebih cantik dan enak dilihat. Begitu halnya dengan satu tempat di Banyuwangi Kota yang mengubah daerahnya dengan mencat tembok rumah menjadi berwarna-warni. Tepatnya di Jalan Kalilo, Singonegaran Kecamatan Pengantigan. Lokasi ini bisa dicapai dengan jalan kaki dari Pendapa Sabha Swagata kurang lebih 100 meter.




Pertama kemunculan tempat swafoto ini entah kenapa saya sendiri kurang tertarik ya hehe. Dan karena tujuan refreshing kali ini adalah kemana saja asal masih di Banyuwangi Kota, saya sih nurut saja kemana maunya dua teman saya yang lain. Cukup lama saya dan dua teman nongkrong di bawah jembatan yang ada disisi seberangnya. Ada pohon gede dan rumah penduduk yang adem, sehingga tidak membuat terik matahari siang itu terlalu terasa. Puas foto-foto dan menikmati semilir angin, kami segera memesan grab untuk menuju Pantai Cemara.


Pantai Cemara Banyuwangi

Beruntungnya kami mendapatkan Grab dengan pengemudi yang baik, dia menawarkan diri untuk menunggu kita sampai puas menikmati Pantai Cemara. Memang, lokasi Pantai Cemara agak jauh dari pusat kota, sekitar 5km dan tidak ada akses transportasi umum untuk menuju kesana. Ada baiknya jika berniat mengunjungi pantai-pantai di Banyuwangi memang membawa kendaraan pribadi.







Grab pun diparkir di halaman rumah penduduk, saya melanjutkan dengan berjalan kaki menuju area pintu masuk Pantai Cemara, nggak jauh banget kok, dan dikenakan tiket masuk kurang lebih 2ribu rupiah saja (kalau nggak salah ingat ya).

Setelah sampai di sekitar pantai, ternyata jauh dari expetasi saya hahaha. Kalau diliat di internet “kenapa yang ngambil foto pinter-pinter sih, kan penasaran jadinya” Jejeran pohon cemara menambah ademnya suasana disini dan banyaknya warung-warung kecil serta gelaran tikar mereka mengurangi keindahan pemandangan di Pantai Cemara ini.


Banyak penjual

Selain menikmati pantai yang berpasir hitam ini, disini juga terdapat bangunan kecil yang difungsikan sebagai tempat penangkaran penyu.


Nongkrong di Three Be Villa & Café

Awal kehadiran café ini dulu tentu saja hits, pengunjung bisa menikmati view Selat Bali dari ketinggian, nahh lho. Iya karena Villa ini terletak di atas bukit. Sebenarnya Villa ini adalah penginapan tetapi ada café yang juga dibuka untuk umum. Lokasinya nyempil di gang sebelah Terminal Ketapang Banyuwangi dan cukup menanjak.

Bagi yang nggak terbiasa dengan angin malam yang aduhai, siapkan senjata andalan yaitu jaket, karena kalau malam anginnya cukup kencang jika kita memilih area outdoor. Saya memutuskan untuk nongkrong dan makan malam disini karena jadwal kereta pulang ke Jember adalah jam 9 malam. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari Stasiun Banyuwangi. Naik Gojek mungkin sekitar 5-10 menit. Lumayan lahh menghabiskan waktu dari sore sampai malam disini sampai masuk angin hahaha





Pemandangan Selat Bali

Jadi, kalau kalian ingin refreshing singkat seharian dan bingung mau kemana, Banyuwangi Kota bisa menjadi alternatif pilihan liburan sejenak untuk menghilangkan kepenatan.

37 comments:

  1. Oh jadi begitu ya asal asul nama banyuwangi. Semuanya bermula dari fitnah yang berakhir di sumur. Menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kaka Zai, kadang kalo legenda gini percaya ga percaya ya, tapi ini yg diyakini juga sama masyarakat sekitar. Penamaan suatu daerah dimana-mana pasti punya legenda/mitos masing-masing

      Delete
  2. Whiiii

    Semoga suatu hari berkesempatan ke Banyuwangi
    Bisa datengin satu satu nih tempat-tempat ini wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuhuuuu
      amin Aul... semoga kesampaian. aku juga beharap bisa main2 ke Padang lho

      Delete
  3. Banyuwangi kok semuanya serba bagus sih. Kok gw kesel yah belom kesampean ke sono-sono.

    Wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha sepertinya ada yang mulai emosi nih. Sini sini aku tungguin di Jember, trus lanjut banyuwangi

      Delete
  4. Mantap juga nih, dalam sehari bisa banyak tempat yang bisa dikunjung sekaligus. Kampung warna warni keren tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bang day, destinasinya nyari yang "simpel" aja ini. Masih dalam cakupan wilayah Banyuwangi Kota. Lagi hits model kampung yang diwarna warni seperti ini, buat cuci mata okelah

      Delete
    2. iya, beberapa teman blogger pernah posting kampung warna warni di tempat lain. Ya lumayan karena beberapa tempat sebelumnya merupakan daerah kumuh

      Delete
  5. hmm.....ada pecel, pecel ini makanan pavorit aku sampe sekarang....apalagi pecel madiun. Kalo pecel aseli banyuwangi ada nggak yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama nih aku juga suka pecel.
      Kalo pecel asli Banyuwangi nggak ada mas anton, yang terkenal ya pecel madiun itu ya.
      Tapi di Jember ada nih pecel "Legend", entah kenapa tempat makan di gang ini rame banget, namanya pecel Walisongo. Porsinya gede. Kalo ke Jember cobain ini mas anton

      Delete
  6. Aku mupeng sama jembatan selfie warna-warni itu. Kelihatan banget dari jalan raya. Sayang dulu itu mau mampir suka nanti-nanti akhirnya nggak jadi mampir. Hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe berarti tandanya kudu main lagi ke Banyuwangi nih

      Delete
  7. paling suka kl ke pantai yg banyak pohon cemaranya, uwww

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. sama-sama kak, trima kasih. Sukses terus juga

      Delete
  9. Oalahhhh tapi kok suaminya gampang percaya banget yaaa kalo istrinya seperti itu, wahhh coba masih ada orang orang seperti istrinya itu huhuw.. Setia sampai suaminya pulang hiya hiya

    ReplyDelete
    Replies
    1. harusnya si suami jangan gampang kemakan berita2 yang blom dibuktikan kebenarannya ya. Tapi namanya emosi mau gimana lagi ya
      jaman sekarang kayaknya ada si istri setia ya, kudu survey deh kayaknya aku hehehe. Ya mungkin jarang juga ditemuin

      Delete
  10. Three B villa emang favoriiittttt bgt, deket dr kontrakanku tuh kak hehehe. Duh aku mupeng pengen masuk pendapa jg. Harus pke izin gak klo mau masuk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ooo staynya deket sama daerah pelabuhan toh, wahh kalo suntuk ga jauh2 meluncur ke watudodol ya.
      untuk masuk pendapa ga perlu ijin beberapa hari sebelumnya yang harus pakai surat resmi. Kalau ini tinggal ijin biasa ke pak satpamnya, nanti isi buku tamu saja

      Delete
  11. Menarik sekali tempatnya. Hutan kotanya juga. Pemandangan malamnya keren banget. Eh btw yang bergelantungan itu buah atau hiasan ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu hiasan saja mas amir. Agendakan ke Banyuwangi ya mas Amir

      Delete
  12. okey, seharian loh ya
    nanti kucoba

    aku pengen yang tidur di bunker itu
    eh tapi khawatir mistis euy, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ke Banyuwangi masih mayan sering kan ya kak Ros, sekali kali coba berangkat pagi pulang malem hehe
      tidur di penginapan yang mumer aja kak, jangan disana :D

      Delete
  13. Saya suka bagian sungainya mbak, meskipun yang jadi tempat foto adalah jembatannya, tapi saya suka dengan bersihnya sungai, ga terlihat ada sampah sama sekali di foto

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa sungainya bersih, aku aja heran liatnya, bener bener warganya menjaga sungai ini. Ngeliat sungainya jadi ga "jijik" dan duduk lama di pinggir sungai juga nyaman tanpa ada "bau aneh" sana sini. Mayan lama aku duduk di pinggiran sungai ini, adem soalnya

      Delete
  14. Paling suka sama konsep kampung yg awalnya kumuh trus dicat warna warni kayak kampung lohkanti ini, di beberapa daerah lain juga ada seperti ini, cantik sekali jadinya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. keliatan cantik ya mbak, di semarang juga ada, Malang sepertinya pelopor pertama soal kampung warna warni ini

      Delete
  15. Banyuwangi lagi ngehits nih gara2 cerita KKN, saya jadi ingat waktu diceritain Sama bapak saya soal asal usual Nama banyuwangi yg berasal dari kisah sritanjung, saya pikir bapak saya kelahiran banyuwangi Karena tau cerita itu, gak taunya kelahiran banyu Biru semarang, semoga bisa menjejakkan kaki ke Sana, saya belum pernah sampai ke ujung timurnya pulau Jawa

    ReplyDelete
    Replies
    1. lagi hits di sosmed ya mb :D

      semoga kedepannya bisa nge-trip sampai ujung timur Pulau Jawa ya mb, banyak destinasi alam yang menarik di kota-kota daerah Timur sini

      Delete
  16. wuih, puas nih ke banyuwanginya mbak. sepertinya saya harus coba nih, tapi pengennya sendirian aja. hehe btw diskon KAI itu udah kebangetan. harga normal 8ribu, udah murah banget, masih digratisin lagi. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kebetulan dalam rangka 17 agustusan, jarang-jarang KAI ngasih gratisan di hari besar. Mayan mayan banget ini
      kapan kapan coba solo traveling ke Bwi mba, kalo aku bisa, ya aku temeni deh heehe

      Delete

Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar biar saya senang

Powered by Blogger.