Singapore : Blusuk'an ke Kampung Etnik Melayu - Kampong Glam yang mempesona


Kalau ingin merasakan nuansa Melayu di Singapura datanglah ke Kampong Glam. Untuk menuju ke sana juga mudah. Dari MRT Bugis Station saya melewati Victoria Street, lalu belok kanan sampai North Bridge Road dan menyeberang ke Arab Street. Carilah jalan kecil Muscat Street maka akan menjumpai Masjid Sultan disana. 



Di depan masjid Sultan yaitu Bussorah Street, disana banyak kios-kios maupun cafe yang menawarkan berbagai macam souvenir. Nah, disinilah Kampong Glam yang dimaksud. Terdapat juga kios Malay Heritage Centre yang terletak di depan penginapan saya di Bussorah Street. Jejeran cafe-cafe dan rumah makan juga cukup banyak. Ketika malam hari, turis-turis juga masih ada yang nongkrong di cafe tersebut. 

Tidak jauh dari Kampong Glam, saya mencoba menyusuri Haji Lane dan Bali Lane. Di Haji Lane saya menjumpai toko-toko yang mirip Distro dengan warna gedung yang berwarna-warni. Sewaktu saya kesana, jalanan masih sepi padahal waktu sudah menunjukkan jam 10 an. Kalau meninginkan barang-barang yang unik bisa membelinya di kawasan ini. 


Haji Lane
Haji Lane
Cafe di daerah Kampong Glam



Muscat Street


0 COMMENT:

Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar biar saya senang

Singapore : Keliling Bugis - Chinatown


Pesawat Lion Air yang saya naiki selama 2 jam dari Surabaya landing mulus di Bandara International Changi Singapura. Cuaca cerah saat saya datang tidak berbeda jauh dengan waktu tadi berangkat di Surabaya. Setelah mengambil peta Singapura yang banyak tersebar di dalam bandara, saya segera turun ke bagian Imigrasi dan mengantri untuk mendapat cap di paspor.

Keluar dari pintu kedatangan, saya langsung menuju Skytrain untuk selanjutnya meneruskan perjalanan dari Changi MRT Station  ke Bugis karena penginapan saya berada di Kampong Glam. 
Jamae Mosque
Setelah makan siang, saya kembali ke MRT Bugis untuk mengexplore kawasan Chinatown. Kios-kios di Chinatown banyak menjual souvenir dengan harga S$10 untuk 3 barang. Keinginan untuk tidak belanja dulu akhirnya tidak tertahan lagi. Waktu saya tiba di sana turun hujan, sehingga untuk berjalan di trotoar kadang berlarian.
 
Jalanan di Chinatown
Saya mendapati Sri Mariamman Temple, Jamae ( Chulia ) Mosque. Ada larangan di masjid ini untuk tidak mengambil gambar dari kamera, saya pun memotretnya secara diam-diam, itupun dari pintu masuknya saja.

Di perjalanan pulang ke hostel, saya berpisah dengan teman saya yang turun lebih dulu, dia mengingatkan saya sesampainya di MRT Bugis untuk keluar dari pintu EXIT B. Berhubung penglihatan jarak jauh terganggu dan kurang jeli membaca petunjuk di dalam station, saya keluar di pintu yang salah, yaitu di seberang jalan yang lain.

Saya kembali melewati Victoria Street, lalu Arab Street dan Masjid Sultan. Sebelumnya saya mampir dulu di Masjid Sultan untuk sholat Ashar dan mengambil gambar dari jendela atas masjid yang mengarah ke Bussorah Street. 
Masjid Sultan
Chinatown
Bussorah Street
Bussorah Street dari jendela Masjid Sultan
Malam harinya, saya mengexplore kawasan Bugis Street, jejeran toko-toko yang menjual aneka macam souvenir jelas mengundang saya untuk membelinya. Tapi malam itu saya sedang tidak ingin buru-buru membelinya. Saya berjalan terus ke arah belakang Bugis Street sampai menjumpai Bencoolen Street. Tidak ada yang menarik selain melihat kios-kios yang menggelar diskon dagangannya.
Waktu masih belum terlalu malam, saya putuskan untuk nongkrong di Bugis Junction sembari menikmati ice bubble tea dan hilir mudik orang-orang di sana.


2 COMMENT:

Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar biar saya senang

Berkemas Praktis Saat Traveling

Ketika traveling kita harus enjoy menikmatinya. Begitu pula dengan barang bawaan yang akan dibawa supaya tidak berat membawanya. Saya akan mencoba berbagi hal-hal apa saja yang biasa saya bawa ketika bepergian. 


1. Peralatan Mandi
Saya lebih memilih peralatan mandi dalam kemasan yang ekonomis. Sabun cair, shampoo kemasan botol yang kecil. Terkadang saya membawa condisioner juga ( ini kondisional ) tergantung tempat tujuan saya. Kalau wisata pantai berhari-hari yang membuat saya harus menceburkan diri ke laut, saya akan membawa condisioner tersebut. Parfum atau body mist bawa yang ukuran botol kecil minimal 100 ml. Lip Balm dan sejenisnya juga membawa yang ukuran mini. Sehingga tas untuk body care tidak terlalu besar dan makan tempat. 

2. Pakaian
Saya membawa pakaian  pun disesuaikan dengan tempat yang akan saya datangi. Jika di dataran tinggi, tentunya akan membawa beberapa buah jaket, sarung tangan, slayer atau kaos kaki. Pada saat saya datang ke Dieng di Bulan Agustus, kesalahan saya adalah tidak membawa kaos kaki atau sarung tangan, padahal luar biasa dinginnya saat itu.  

3. Teman perjalanan
Untuk mengusir kebosanan di jalan, saya sering membawa buku atau majalah. Lumayan untuk mengurangi kejenuhan ketika tiba-tiba bengong di ruang tunggu bandara. Bisa juga membawa ipod yang akan menemani sepanjang hari dengan lagu-lagu favorit.
Untuk teman-teman traveler yang lain bisa juga ditambah dengan barang-barang favorit yang lainnya.

4. Properti Foto
Kalau soal properti foto tergantung tujuan destinasinya, misal ke Pantai, dan dari awal ada niat untuk foto cantik ala-ala, pasti ada saja barang pendukung yang dibawa, entah kacamata, topi kekinian sampai tas piknik kekinian pula. Kalau bawa properti seperti ini, pastinya beban barang yang dibawa akan bertambah berat dan repot.

5. Kamera
Jangan dilupakan alat fotografi yang satu ini, nggak perlu yang berharga puluhan juta kalau memang tidak punya, jaman sekarang kualitas dari Handphone juga nggak kalah dengan kamera canggih para fotografer profesional kok
Semua tergantung tiap individu, maksud dan tujuan datang ke lokasi wisata memang berbeda-beda, itu hak masing-masing orang.

Apalagi ya kira-kira yang perlu dibawa? Share dong cerita kalian


2 COMMENT:

Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar biar saya senang

latest 'gram from @ainun_isnaeni