Kearifan Lokal di Desa Sade Lombok

wisata di lombok

Ke Lombok kurang afdol kalau belum singgah ke Desa Adat Sade. Berkunjung ke Sade lagi kali ini itupun karena mengisi waktu sambil nunggu flight jam 1 siang. 

Jadi, pagi itu memang sengaja jam 8 pagi untuk ikut Damri yang ke Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam) supaya ada waktu untuk ke Desa Sade. Kunjungan kali ini benar-benar tersiksa, saya dibuat tersiksa dengan insiden kaki keseleo saat di Bandara tadi ketika menunggu driver ojek motor yang saya sewa.

Baidewei, kalau mau ke Desa Sade memang nggak begitu jauh, kurang lebih 45 menit berkendara dengan sepeda motor. Di Bandara sendiri banyak charter mobil yang siap mengantarkan penumpang ke Sade, karena saya nggak rombongan dengan banyak orang, jadi waktu di perjalanan ke Bandara, saya coba cari ojek motor aja dan dapat harga kalau nggak salah 150 ribu. 

Perjalanan dari Bandara ke Desa Sade memang terbilang santai, saya pesan sama mas drivernya buat nyantai aja waktu nyetir. 

Selamat Datang di Desa Adat Sade

Nggak banyak yang berubah di bagian pintu masuk Desa Sade, semua masih sama saat saya datang kesini tahun 2015. 

wisata alam di lombok

wisata alam di lombokt


Seperti biasa, di Desa Sade nggak ada tiket masuk, jadi sukarela aja pengunjung mau kasih uang berapa. Setelah pintu masuk, di sebelah kanan akan disambut meja tamu lengkap dengan buku tamu dan kotak tempat memasukkan nominal “sumbangan”.

Baidewei, saat pengunjung menulis buku tamu akan ada Guide yang menghampiri dan siap mengantarkan kita. Waktu itu saya penasaran pengen ngerasain langsung menginjak lantai rumah Suku Sasak yang sering dibersihkan dengan kotoran kerbau. Pas diajak keliling sama Guidenya malah lupa mau masuk rumah salah satu warga. Entah apakah semua lantai yang ada di komplek Desa Sade ini dibersihkan dengan kotoran kerbau apa nggak, yang jelas waktu memasuki tempat penjualan cinderamata di salah satu bagian rumah, saya sempat melepaskan alas kaki. Dan lantainya juga terasa sama aja seperti lantai rumah pada umumnya.

Saya juga diajak oleh Guide untuk merasakan langsung sensasi mengenakan pakaian adat Lombok di tempat ini. Saya minta dipilihkan warna kain yang cerah dan mulai dililitkan di pinggang saya.  

blusukan desa sade



kain tenun lombok

desa sade lombok


Bapak Guide dan ibu penjualnya juga enak kalau menjelaskan, jadi memang nggak semua kain yang dijual di Desa Sade dibuat dalam kurun waktu satu bulan, kalau untuk syal yang pendek-pendek bisa dibuat dalam waktu beberapa hari aja.

Dengan mengenakan pakaian khas Suku Sasak, saya masih diajak untuk keliling-keliling sambil foto-foto.

desa sade
Vibesnya seperti di rumah nenek

Saya juga diajak Bapak Guide untuk melihat pohon yang menjadi simbol cinta dari Suku Sasak. Saking “sakralnya” pohon ini, sampai sekarang masih tetap berdiri di salah satu gang di dalam pemukiman warga Suku Sasak, pohonnya nggak terlalu tinggi dan sudah nggak muncul daun-daun yang menghijau, jadi bener-bener pohon kering gitu.

Dalam tradisi Suku Sasak, perempuan yang dipilih untuk dinikahi akan dibawa pergi semalaman tanpa sepengetahuan orang tua mereka atau disebut dengan kawin lari. Tapi, kawin lari disini bukan dalam artian yang diajak kabur gitu, melainkan karena si wanitanya dibawa pergi tanpa ada ritual layaknya pernikahan pada umumnya.

pohon cinta desa sade


Orang tua yang nggak bisa menemukan putrinya, dalam semalam harus menikahkannya dengan pemuda pilihan wanitanya.

Pohon yang dianggap “sakral” ini sebenarnya adalah pohon nangka yang sudah mati, tetapi karena sering dijadikan lokasi pertemuan, jadi sering disebut pohon cinta.

Support Pedagang di Desa Sade

Di Desa Sade, pengunjung selain bisa mencoba merasakan langsung sensasi menenun, juga bisa membeli produk-produk hasil karya dari warga sini, seperti kain sarung dengan motif khas Lombok, produk tas yang unik, atau pakaian jadi seperti rompi. 

wisata sade di lombok

Saya nggak mau melewatkan begitu aja momen disini, jadi saya tertarik dengan salah satu rompi yang unik, terbuat dari kain tenun dengan motif khas Lombok. Hitung-hitung menambah penghasilan ibu-ibu pekerja yang kreatif di Desa Sade.

Yang Berbeda dari Desa Sade

Ketika memasuki area depan dari Desa Sade, saya nggak melihat adanya perubahan dari pintu masuk. Namun, setelah puas berkeliling di area Desa Sade, saya kembali lagi ke bagian depan, dan baru menyadari kalau ada tambahan area seperti bale-bale dan replika rumah sasak dengan tulisan dibagian atasnya yaitu Desa Sade, kata bapak Guidenya, “rumah” ini baru dan biasa dijadikan spot foto pengunjung. Saya juga nggak pengen ketinggalan pastinya.

desa sade lombok


Hal lain yang bikin saya kaget adalah adanya minimarket Alfamart di seberang jalan dari kawasan Desa Sade. Kagetnya kayak shock aja, jarang-jarang soalnya di Lombok menemukan minimarket di area yang jauh banget dari pusat kotanya.

Ada untungnya juga dengan keberadaan minimarket di depan kawasan Desa Sade ini, kalau pengunjung haus atau pengen beli camilan tinggal menyeberang jalan aja.

Yang pasti kedatangan saya kesekian kali di Desa Sade bener-bener napak tilas dan mengobati rasa kangen akan Pulau Lombok.

Comments

  1. Aku juga suka dengan desa sade. Ada wanita dari subang jawa barat menikah sama orang desa sade dan mau tinggal di sana. Salut

    ReplyDelete
  2. Desanya masih asri banget.. suka juga sama pengambilan gambarnyaa

    ReplyDelete
  3. Woowww.. Aku masih kepikiran soal ritual dibawa lari semalaman terus ortunya harus nyari.. Lucu yakkk 😂 kaya main petak umpettt..
    Btw kain tenunnya bagus-bagus mba.. Mba Inun yang pakai baju Sade juga terlihat cantik 😁 kaya Indonesia Next Top Model.. hehe. Cusss mba daftar. 😅
    Pohonnya udah mati brrti ya mba? kalau berdaun lebat nambah bagus itu 😍

    ReplyDelete
  4. Wah, senangnya mbak Ainun berkeliling di Desa Sade. AKu belum kesampaian nih :D Kain tenunnya cantik2 ya. Kalau dijual di Sarinah Jakarta sini jadi muahhhhaal pasti harganya hihihi. Keren banget foto2nya, semoga suatu hari aku bisa pose cantik di Desa Sade aamiin.

    ReplyDelete
  5. Agak serem juga ya say liat atapnya, mana itu ada api.
    Kalau setitik api aja terbang dan hinggap di atapnya, auto byar dah dimakan api :D

    Anehnya, jarang banget ya kita dengar ada rumah gitu terbakar.
    Justru rumah modern yang seharusnya nggak mudah dimakan api, yang kebakaran :D

    Btw, kain tenunnya cantik-cantik banget ya :D

    ReplyDelete
  6. kl mbak Ainun kaget tahu ada Alfamart, aku kagum sama outfit-nya mbak Ainun. Blouse-nya bikin ngiler, bisikin beli di mana dong. Maapkan salah fokus soalnya, aahaha

    ReplyDelete
  7. Waah kalo mau jalan-jalan ke Desa Sade sepertinya ga bisa buru-buru agar bisa menikmati dengan santai yaa mbaa..
    Desa Sade kaya akan budaya dan karya-karya kreatif warga lokal, seru untuk dikunjungi

    ReplyDelete
  8. Desa sade emang jadi tujuan utama kalau di lombok. Layak dikunjungi. Apalagi ada fasilitas guide yang akan bercerita banyak tentang suku sasak dan lombok. Pengunjung sebaiknya membeli kerajinan yang dibuat warga. Jadi pengunjung tidak sekadar berkunjung, tapi juga belajar tentang suku sasak dan lombok, serta membantu peputaran roda perekonomian di desa sade.

    ReplyDelete
  9. Thanks for sharing

    visit our website

    ittelkom jakarta

    ReplyDelete
  10. seru banget mbaa bisa berkunjung ke desa sade. bonus cobain kain dari desa sade dan bisa lihat2 proses pembuatannya. keren!

    ReplyDelete
  11. aduh keseleo ya, jadi ga full power dong nikmatin kunjungan nya yah. sayang sekali

    ReplyDelete
  12. aaaaa lomboookkkk! aku pernah ke lombok jaman smp. duh udh lama banget pasti banyak yang berubah. dulu jalanan bener-bener sepi, kayaknya sekarang pasti udah rame ya. pengen banget oneday bisa ke tempat-tempat di atas 😁

    ReplyDelete
  13. semoga bisa ke lombok. pengen liat sisi indonesia yang lain terutama budayanya..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar biar saya senang