6 Tempat Wisata Wajib Ketika Mengunjungi Saigon, Ho Chi Minh City

Jadi, selama satu hari mengikuti tour di Ho Chi Minh City, saya pergi kemana aja? Nah ini dia cerita selanjutnya.

1. Mampir sebentar ke Cao Dai Temple

Setelah tujuan pertama menyambangi Cu Chi Tunnels, mini bus yang saya tumpangi kembali menuju pusat kota. Di tengah perjalanan, ternyata bis membelokkan kemudinya memasuki sebuah tempat ibadah. Bapak Guide menjelaskan dengan semangatnya, sementara saya asik mengamati lingkungan sekitar. Saya mengikuti teman teman bule yang serombongan berjalan menuju tempat ibadah tersebut, yang akhirnya saya baru tahu kalau tempat ini adalah Cao Dai Temple.



Tampak dari pintu masuk gerbang, bangunan dengan dua buah menara disamping kanan dan kiri di bagian depan Temple dan dilapisi cat berwarna kuning cerah yang menarik perhatian  mata saya. Arsitekturnya unik.


Ketika saya tiba di Cao Dai Temple bertepatan dengan berjalannya ibadah umat. Oya, menurut mbah Google nih, Cao Dai Temple ini merupakan tempat ibadah bagi penganut agama Cao Dai dan menganggap semua agama adalah sama dan Tao adalah sebutan untuk dewa tertinggi.


View dari lantai 2

Di dalam area Temple, pengunjung nggak bebas untuk ngobrol, jelas aja lah wong barengan dengan sembahyangnya umat lain, jadi saya hanya cukup mengagumi keindahan tempat ibadah ini dan mengabadikan mereka yang melakukan ibadahnya dengan khusyuk.

Nggak ngerti artinya

Mata saya menangkap atap Cao Dai Temple berwarna biru muda layaknya awan biru, cantik sekali. Lantai keramik dengan desain vintage-nya, pilar yang berdiri kokoh dengan balutan ornamennya yang unik, yang saya sendiri juga tidak tahu wujud apa sebenarnya itu. Barisan penganut agama Cao Dai yang duduk berkelompok berdasarkan warna pakaiannya, ada yang berwarna putih, biru, merah maupun kuning.


Puas mengagumi sisi dalam Cao Dai Temple, saya bergegas keluar area ibadah ini, kembali bercengkrama dengan Bapak Guide Tua nan humoris.

2. Melihat tempat pembuatan keramik

Sepertinya jasa agent travel di HCMC ini, isi itinerarynya sama semua, ketika sampai di tempat pembuatan keramik, warna mobil jenis minibus yang parkir pun mirip.

"Wahhh sepertinya banyak turis di dalam", pikir saya

Setelah Guide muda beramah tamah dengan si pemandu lokal di tempat kerajinan keramik ini, rombongan saya mulai disambut dan dijelaskan di depan pintu masuk dengan media papan yang amat lebar mengenai proses pembuatan keramik.





Guide nya berganti dengan mbak ini. Pemandu dari tempat kerajinan ini


Karena keterbatasan bahasa, turis dan pengrajin hanya saling terdiam mengagumi satu sama lain #ehhAhhh. Tangan terampil dan cekatan pekerja paruh baya disini membuat saya kagum, wow, udah itu aja. Mereka sudah terbiasa membuat kerajinan dari remahan beling-beling (kaca) keramik. Di tempat ini juga disediakan ruangan tempat memajang hasil karya para pekerja tersebut dan jika turis berminat bisa langsung dibungkus pulang. Alhasil, saya tidak tertarik untuk membelinya hehehe.


3. Mengunjungi pasar ikonik Ben Than Market

Manalagi pasar yang hits di HCMC? Setahu saya Benh Tan Market ini, karena fotonya terpajang di selebaran kartu pos yang sering dijadikan buah tangan ketika ke HCMC.

Wisata ke Pasar seperti ini (Foto dari Google)

Si Guide memberi waktu kurang lebih satu jam untuk explore daerah ini. Oke, saya berpisah dengan rombongan dan mulai sok tahu berjalan menjelajahi area dalam pasar yang ternyata membingungkan.
Kondisi Benh Tan Market tidak jauh berbeda dengan pasar-pasar induk di Indonesia, beragam kebutuhan tersedia di sini. Bau menyengat khas pasar pun terutama di area basah juga dijumpai di sini.

Karena sudah cukup bosan, saya pun mulai berputar-putar mencari pintu keluar dan susah.

Ada cerita lucu juga waktu mencari pintu keluar pasar ini, saya bertemu dengan teman serombongan, lebih tepatnya ibu-ibu dan dia tidak bisa bahasa Inggris, alhasil selama mencari pintu keluar hanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat #TarzanModeOn


4. Foto kece di Gereja Catedral Notre Dame & Kantor Pos Saigon

Tujuan berikutnya yaitu mengunjungi Gereja Katedral  Notre Dame. Untuk area yang digunakan sebagai tempat berdoa ditutup untuk umum, jadi pengunjung hanya bisa di teras dalamnya saja dan mengabadikan area dalam dari luar. Luar biasa cantiknya gereja ini dan udaranya sejuk. Di depan gereja, terdapat zebra cross dan sering dijadikan area untuk berfoto oleh kelompok Influencer.

Gereja Iconic di Saigon

Berseberangan dengan gereja terdapat Kantor Pos Saigon. Memasuki kantor pos ini, mata akan disambut oleh keriuhan khas pengunjung kantor pos, ada yang sibuk dengan kiriman paketnya dan ada juga yang sibuk mengambil gambar, seperti saya.

Gambar dari Google

Di kantor pos ini, ada salah satu sudut yang dijadikan area tempat menjual pernak pernik khas Saigon. Jadi, tidak perlu bersusah payah mencari toko oleh-oleh lain lagi kalau merasa capek jalan.

5. Mengenal Sejarah di War Remnants Museum

Iya, biar pinter gitu maksudnya, jadi, saya diajak mengunjungi War Remnants Museum. Memasuki halaman depan Museum ini, awalnya saya pikir akan membosankan, karena di halaman banyak kendaraan tempur seperti tank.

Selamat Datang

Kumpul barisan sebelum memisahkan diri

 Sebelum seluruh peserta memisahkan diri, Guide mengumpulkan saya dan rombongan
"Ahh Malaysian, where is Malaysian?" tanyanya pada kita semua

Reflek semua peserta saling berpandangan, kan nggak ada yang dari Malaysia. Ternyata, yang dia maksud adalah saya, yaa mungkin karena muka Asia Tenggara jadi dianggap orang Malaysia

Setelah petunjuk dan berapa lama waktu yang diberikan kepada saya dan rombongan, kaki kembali melangkah menaiki anak tangga dan sampailah di Lobi bangunan, lalu mulai naik ke lantai dua. Di lantai dua terdapat banyak ruang dan pajangan foto-foto "mengerikan" jaman penjajahan dulu. Saya sampai terdiam cukup lama di depan foto yang mana anak kecil ataupun bayi menjadi korban kekejaman penjajah. Sadis banget



Cukup puas mengitari bagian dalam gedung, saya keluar gedung untuk mengexplore sisi luar, yaitu melihat sel penjara yang digunakan untuk menyiksa warga Vietnam sehingga menyebabkan mereka tewas perlahan.

Masuk ke wilayah "tempat penyiksaan"



Beberapa replika atau gambaran ketika penyiksaan
6. Main sebentar ke Reunification Palace Saigon

Reunification Palace merupakan Istana Kepresidenan Pemerintah Saigon, yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat bekerjanya Sang Presiden. Istana ini berdiri diatas lahan seluas 12 Hektar, menurut Google pastinya.

Tampak depan (foto dari Google)

Saya dan rombongan sibuk memisahkan diri masing-masing, saya pun mulai mengexplore lantai demi lantai. Kesan pertama, bersih banget Istananya. Hampir semua ruang bersejarah di batasi dengan tali pembatas, agar turis  nggak sembarangan memegang benda-benda disana.

Di Istana ini terdapat ruang bawah tanah dengan lebar jalan sekitar 1 meter, sempit banget. Saya sendiri sampai susah menemukan kembali pintu keluar dan memilih mengikuti turis lain agar sukses keluar dari ruang bawah tanah yang agak pengap ini.

Di sisi lain yaitu di Rooftop Istana terdapat Helipad sekaligus dengan Helicopter tentunya, view dari atas cukup menyejukkan mata, dapat melihat jalanan besar di depan Istana dan halaman Istana yang dihiasi dengan air mancur di tengahnya.
Sayang banget nih, file foto saya lenyap entah kemana, padahal view dari Rooftop keceh banget. Hiks


Agenda acara diatas sudah menghabiskan waktu dari pagi hingga sore. Tidak semua tempat bersejarah dikunjungi dalam satu paket tur ini. Jadi, memang lebih asik jalan sendiri dan mengexplore kota tanpa batasan waktu. Tapi kalaupun jalan sendiri, mungkin kebanyakan dari turis Indo memilih tempat-tempat yang sudah "hits", jadinya pasti kesana kesitu aja.

Waktu mengikuti tur lokal ini, saya juga diajak singgah ke Kuil, menyaksikan warga lokal yang sibuk dengan ritual ibadahnya, asalkan tidak mengganggu dan lokasinya juga bukan terletak di wilayah touristy, jadi kalau mau mencari sendiri pun akan ribet.

Kabari ya kalau kalian Saigon,  mau foto ulang lagi nih hehehe

40 COMMENT:

Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar biar saya senang

When I Fall in Love with Ho Chi Minh and Cu Chi Tunnels

Entah apa yang membuat saya pingin banget pergi ke Vietnam, selain karena penasaran, mumpung si maskapai merah lagi ajur-ajuran jualan tiket, yaudah saya click saja website si maskapai merah itu dengan tujuan Ho Chi Minh City dengan keberangkatan dari Kuala Lumpur, karena saya pikir ngapain juga lama-lama di Malaysia, sudah bosen *sombongnya* 

Nekat solo travelling ke Vietnam tepatnya di Ho Chi Minh City dengan berbekal ilmu dari blogger sana sini seperti biasa selalu muncul rasa ketidakyakinan "bisa nggak ya nanti disana, aman nggak ya", pikiran seperti itu masih saja menghampiri meskipun saya sudah sering solo travelling. Dengan hati yang mantap, akhirnya malam itu pesawat yang saya tumpangi mendarat mulus di Bandara Internasional Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City. Sempat parno juga, karena sebelum saya berangkat ke sana, ada berita mengenai jatuhnya maskapai Malaysia Airlines yang diduga jatuh di perairan Vietnam.

Selamat Datang di negara 1000 Motor
Kelar urusan stempel paspor di bagian imigrasi, yang untungnya malam itu loket dibuka semua, sehingga antrian penumpang dari pesawat yang baru tiba tidak sampai antri panjang, saya mulai beranjak menuju pintu keluar, celingak celinguk mencari taksi Vinasun yang direkomendasikan oleh beberapa traveller. 

Penampakan Taksi Vinasun

Sebelumnya sudah saya persiapkan di secarik kertas, alamat dan nama hotel yang sudah saya pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Driver minim bahasa Inggris jadi cuma pakai bahasa isyarat dan nunjuk-nunjuk saja. Disepakati harga menuju Distrik 1 tempat hotel saya berada yaitu 100ribu Dong. Sepertinya rata-rata untuk menuju ke pusat kota sekitar harga 100ribu.

Kesan pertama 

Oke, happy banget rasanya sudah sampai di Ho Chi Minh, benar kata orang-orang kalau sebutan untuk ibukota ini adalah seribu motor, lah wong motor saja semrawut nyetirnya. Nggak sampai satu jam perjalanan dari Bandara menuju distrik hotel saya berada, Driver mulai berkata dengan bahasa ibunya sendiri, intinya kalau taksi sudah masuk di jalan yang dituju, mata saya mulai awas memperhatikan plang nama nama hotel dan untungnya saya cekatan sekali, sehingga  hotel saya nggak terlewatkan. Pfiuhh


Wajah Saigon di siang hari
Wow, mungkin itu ekspresi yang saya keluarkan ketika turun dari taksi, hotel saya berada disamping resto & cafe yang juga berfungsi sebagai club malam, nggak heran suara jedag jedugnya sampai ke kamar, terutama ketika saya menginap di pilihan kamar yang dorm. Untungnya malam berikutnya saya sudah pindah ke single room yang suara dari luar tidak begitu terdengar.

Mencari Agent Travel

Nggak mau buang waktu percuma di hotel, malam itu saya berjalan jalan menyusuri daerah touristy ini, sekalian untuk mencari agent travel untuk mengikuti One Day Trip keesokan harinya, bingung menentukan pilihan hati, akhirnya saya melangkah masuk ke sebuah rumah kecil yang juga di fungsikan sebagai agent tour dan tempat persewaan sepeda, mas masnya oke juga bahasa Inggrisnya. Tawar menawar harga pun terjadi dan saya mengambil paket ke Cu Chi Tunnels dan City Tour. Memang tujuan utama ke sana pokoknya harus ke Cu Chi Tunnels. Harga yang disepakati sekitar 10-an Dollar AS saja.

Si mas-mas resepsionis ini bilang, kalau besok saya akan di jemput di hotel. Wahhh oke banget kan *senengduluyangpenting*.

Besok paginya, saya sudah siap lahir batin menunggu jemputan dari pihak tur. Dan akhirnya muncul juga mbak mbak dengan perawakan kecil memasuki lobi hotel dan taraa ternyata saya dijemputnya dengan jalan kaki gitu hahaha.

Saya berjalan mengekor di belakang mbaknya, asik mengeluarkan kamera untuk foto sana sini, nggak lama mbaknya berucap - kalau diartikan seperti ini :

Ini yang jemput, perwakilan dari pihak tur

"Masukkan kamera ke tasmu, jangan keluarkan kamera di jalan"

Oke, saya nurut. Dan memang baca info di internet pas di Indo pun, banyak kejadian turis kecopetan gitu.

Pedagang kaki lima di sepanjang jalan

Kelar selesai jemput peserta satu satu, saya menuju ke pool bus tempat semua peserta tur berkumpul. Yaelahh ternyata tempat ngumpulnya nggak jauh dari kantor The Sinh Tourist, agen tur yang terkenal di HCMC. Jadi nyesel kemarin malamnya nggak belok ke arah sini, padahal cuma belok aja dari jalan utama hotel saya, padahal memang maunya nyari The Sinh ini. Yaudah lahh

Kawasan Distrik 1, banyak agent tur, minimarket

Mini bus yang saya tumpangi, nggak jelek jelek amat, Guidenya bapak tua yang masih berjiwa rock'n roll. Sesekali melontarkan guyonan dalam bahasa Inggris.

Bis sudah menunggu


Guide Masa Kini


On the way Cu Chi Tunnels

Mini bus berjalan melewati jalanan kota yang tidak terlalu lebar dan menerjang debu-debu di bawah panasnya cuaca HCMC waktu itu, ternyata kontur jalanannya juga nggak berbeda jauh dengan jalan di daerah pinggiran di Indo. Cukup lama perjalanan yang saya tempuh dari pusat kota ke daerah Cu Chi ini.

Sampai akhirnya, mini bus sudah masuk di pelataran parkir Cu Chi. Guide membeli tiket dan semua peserta berjalan mengikuti langkah kakinya. Fyi, harga tiket masuknya 70ribu Dong dan 20ribu Dong. Saya nggak ngerti kenapa ada 2 tiket yang diberikan ke saya, mungkin itu harga tiket masuk dan biaya parkir kali. Omaigod, akhirnya nyampai juga di Cu Chi Tunnels.

Finally, I got it

Jadi, Cu Chi Tunnels ini dibangun ketika jaman perang Vietnam untuk menghindari penjajah gitu, yaitu dari pihak Perancis maupun Amerika, nggak habis pikir mereka bisa bertahan di bawah tanah dengan keadaan penerangan yang minim dan lorong yang sempit. Untungnya badan saya kecil jadi lengang aja jalan di dalam terowongan, rombongan saya kebanyakan bule dengan badan yang gede-gede hehehe.

Pintu masuknya melewati terowongan seperti ini dulu

Di dalam  Cu Chi juga ada tempat untuk meeting, dapur dan ventilasi yang cukup. Bahkan rumah sakit dan sekolah juga ada di dalam terowongan ini. Terowongan dibangun dengan desain yang luar biasa untuk mengelabui penjajah, dan dibuatnya pun dengan peralatan sederhana dan manual, tapi hasilnya sungguh diluar perkiraan saya sendiri. Perjuangan tentara gerilya Viet Cong Vietnam waktu itu bener-bener penuh perjuangan.


Senjatanya lengkap

Saya diajak melihat beragam replika yang menggambarkan kehidupan pejuang ketika melawan penjajah, replika jebakan batman dengan besi besi tajam dan runcing yang disembunyikan di balik rumput agar tidak terlihat oleh penjajah. Dan nggak ketinggalan menyaksikan video sejarah Cu Chi dan pejuang-pejuang yang menorehkan "prestasi" demi berjuang melawan penjajah. Miris

Guide lagi menjelaskan sejarah Vietkong

Jebakan Rumput, awas di dalamny ada besi tajam yang siap membunuh penjajah
Jebakan senjata 

Antusias saya semakin memuncak ketika melihat langsung lubang berbentuk kotak dengan ukuran yang sangat kecil. Guide saya memberi kesempatan kepada rombongan untuk mencoba masuk. Lahh saya diam saja waktu itu, antara pingin tapi.... Ya akhirnya saya cuma jeprat jepret saja. Padahal dalam hati pengen diabadikan momen ketika kaki dan separuh badan masuk ke dalam lubang sempit itu.

Cu Chi Tunnels
Replika pejuang Vietkong
Antri untuk masuk ke lubang Cu Chi

Tur jalan kaki di dalam area Cu Chi lumayan lama dan jauh juga, sampai tiba di bagian akhir yaitu bangunan terbuka yang difungsikan sebagai rest area dan tempat menjual minuman segar dan snack ringan, tepat bersebelahan dengan lahan yang difungsikan sebagai tempat area bermain menembak.

Lahan untuk megikuti refreshing singkat, menembak

Finish di Rest Area


Dan nggak salah kalau saya merasa in love dengan HCMC sejak awal saya tiba dan harus kembali lagi kesini, mungkin karena kurang lama juga waktu itu.  Bagaimana dengan Cu Chi? Pastinya saya harus balik lagi kesana buat foto di lubang kotak yang hits itu dan nge-vlog hahaha


Note :
- Karena HCMC panas banget menurut saya, pakai pakaian yang ringan ringan saja dan tetep fashionable *harusitu*
- Memang susah nyari makanan halal disini, kudu pinter milih. Banyak kok sebenarnya tempat makan di area muslim, tapi agak jauh dari Distrik 1 tempat saya menginap ini







22 COMMENT:

Terima kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan komentar biar saya senang

latest 'gram from @ainun_isnaeni